Heavenly Sawarna

Perencanaan yang dadakan dan persiapan yang sederhana tak mengurungkan niat saya untuk tetap berangkat bersama beberapa teman untuk menyambangi “Heavenly Sawarna” kalau kata orang-orang sih gitu. Lokasi Pantai Sawarna yang terletak di selatan provinsi Banten ini sangat memukau penampakan pantai dan kondisi alam sekitarnya. Pertama kali menyebut kata Sawarna, beberapa orang sekitar saya ada yang mengira itu pantai di Bali, Yogyakarta, dan Lombok. Hehe… Salah.

Sebelum saya ceritakan lebih lanjut pengalaman berkunjung ke pantai Sawarna ini, saya akan tunjukkan posisi pantai Sawarna kalau dilihat dari Jakarta, Bandung, dan sekitarnya.

Image

Image
photo by: Andiwenas

Nah, sudah kebayang kan posisi Pantai Sawarna ini ada di sebelah mana kotamu?

Jadilah, saya dan 6 orang teman kantor berencana menghabiskan libur akhir pekan kali ini ke pantai Sawarna dengan berkendara sepeda motor yang khusus atau biasa digunakan untuk perjalanan jarak jauh atau biasa kita sebut motor khusus untuk touring. Berangkat dari Jakarta hari Jum’at tanggal 7 Juni sekitar jam 9 malam. Mengapa kami memilih perjalanan malam? Selain menghindari macet, kami juga harus tetap menunaikan kewajiban kami sebagai pekerja kantoran, apalagi saya yang harus menjalani Ujian Akhir Semester dulu. (Maklum, anak kuliahan juga soalnya… hehe… )

Berangkatlah kami menggunakan 4 motor melalui jalur Depok – Bogor – Sukabumi – Lebak – Bayah, Banten Selatan. Perjalanan malam yang terasa sangat panjang menurut saya, karena kami sampai di lokasi jam 9 pagi keesokan harinya. Selama perjalanan menuju kesana, kami sempat berhenti di beberapa rest area guna melepaskan lelah sejenak sambil ngopi-ngopi dulu.

Jika berniat ke pantai Sawarna menggunakan sepeda motor, saya sarankan menggunakan sepeda motor khusus untuk touring. Kondisi jalan yang rusak setelah memasuki wilayah Bayah sangat berbahaya jika kita menggunakan kendaraan semisal sepeda motor bebek standard, motor dengan mesin matic, mobil dengan kondisi ban ceper pun tidak saya sarankan untuk digunakan kesana. Struktur jalanannya pun turun-naik seperti sedang naik kora-kora di Dufan. Tentu bisa dibayangkan bagaimana jantung yang ikut naik-turun juga…

Tadaaaa…. Akhirnya sampai juga di Desa Sawarna. Eiits… Dari gapura utama Desa Sawarna ini, kita harus melewati kali yang dilalui aliran sungai yang sangat deras. Bagaimana melewatinya? Ini yang jadi persoalan. Kita harus masuk ke Desa Sawarna menggunakan jembatan kayu yang disambung dengan tali tambang besar-besar. Jembatan ini hanya bisa dilalui pejalan kaki, sepeda, dan sepeda motor saja. Dan aturannya, hanya bisa satu sepeda atau sepeda motor saja yang bisa melewatinya. Artinya, kita harus bergantian untuk melalui jembatan itu.

Menunggu antrian unuk melewati jembatan.
Menunggu antrian unuk melewati jembatan
Pintu Masuk Desa Sawarna melalu Jembatan ini.
Pintu Masuk Desa Sawarna melalu Jembatan ini

Setelah berhasil melewati jembatan setapak itu, akhirnya kami memasuki wilayah desa Sawarna yang juga tidak memiliki jalan besar. Jalannya hanya diperuntukkan pejalan kaki, sepeda dan sepeda motor saja. Jika pengunjung membawa mobil atau bis pariwisata, biasanya diparkir di area parkir di luar desa yang memang khusus disediakan oleh warga setempat. Oiya, masuk ke desa Sawarna ini kita harus membayar tiket masuk per orang seharga 5.000 rupiah saja.

Pemukiman desa Sawarna ini sepertinya belum terlalu padat. Rumah-rumah warga setempat banyak yang dijadikan home stay untuk disewakan ke para pengunjung. Namun kami tidak memilih untuk menyewa home stay ini. Kami terus masuk kearah pantai. Jika dipetakan, di desa Sawarna ini area pemukiman hanya di depan saja. Area tengah desa digunakan warga setempat untuk bercocok tanam dan ujung desa ini adalah pantai yang kita sebut, pantai Sawarna ini.

Pasir putih yang terdapat di pantai inilah yang menurut saya sangat menarik. Tak kalah indah dengan pantai-pantai di Bali, Lombok, dan di beberapa wilayah Indonesia lainnya, ini merupakan lokasi yang patut kamu kunjungi segera. Tempat wisata yang masih belum terjamah ini, sangat membuat kita yang ingin melepaskan penat perkotaan sangat manjur. Pengunjungnya pun tidak banyak, padahal hari itu saya termasuk di pekan libur panjang, lho. Bisa dibayangkan di hari-hari akhir pekan biasa, pasti lebih sedikit pengunjungnya.

Tiba di Sawarna langsung mejeng ^^
Tiba di Sawarna langsung mejeng ^^

Pantai Sawarna yang menyuguhi keindahan laut dan alam sekitarnya ini ternyata mempunyai banyak spot untuk kita kunjungi selain pantainya itu sendiri. Jika kamu tidak malas, kamu bisa berjalan ke arah timur pantai dimana terdapat Kebun Pari yang mungkin dulunya banyak ikan pari, tapi saya sayangnya tidak menemui itu. Disana terdapat hamparan karang yang banyak digenangi air dan terdapat ikan-ikan serta bintang laut yang bersembungi diantara karang yang digenangi air tersebut.

IMG_20130610_012124
Kebun Pari, Pantai Sawarna, Banten
Bintang Laut yang bersembunyi di air yang menggenang di karang-karang.
Bintang Laut yang bersembunyi di air yang menggenang di karang-karang

 

 

 

 

Lanjut lagi perjalanan saya menuju Tanjung Layar. Kita akan disuguhi oleh dua tebing tinggi yang sangat kokoh diterjang ombak luat Sawarna. Disebelah kanan kiri dua tebing itu ada pagar terbuat dari batu, entah itu karang juga atau bukan, jadi setiap ada ombak yang menghantam pagar batu tersebut, akan menghasilkan benturan hebat yang mengakbitkan air laut menyembur tinggi. Melihat ini, saya seperti sedang ada di kolam renang besar dengan arena yang bisa membuat ombak buatan dan menyemburkan hujan air dengan jumlah yang sangat besar. Keren bangeeeeeet…

Tanjung Layar, Dua tebing yang kokoh.
Tanjung Layar, Dua tebing yang kokoh
Tanjung Layar.
Tanjung Layar
Pagar Batu yang ada di sebelah kanan tebing. Dihantam ombak namun tetap kokoh.
Pagar Batu yang ada di sebelah kanan tebing. Dihantam ombak namun tetap kokoh

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah dari Tanjung Layar, kita beranjak ke Goa. Tidak jauh dari lokasi Tanjung Layar, tetapi karena hari sudah semakin gelap, saya tidak bisa mengambil foto karena gambarnya gelap. (kamera ponsel saya pun tidak mendukung sepertinya. hehe… )

Kami kembali ke pantai dan bermalam di Saung milik Pak Asep yang berada tepat di pinggir pantai. Harga per saung sangat murah menurut saya, semalamnya kami dikenakan seharga 70.000 rupiah saja. Saung itupun bisa berisi maksimal 3 orang dewasa. Murah kan? =D Oiya, jangan lupa malamnya kamu juga bisa meminta bantuan Pak Asep untuk membuuat api unggun. Wah… Makin seru deh!

Pak Asep sedang membuat Api Unggun.
Pak Asep sedang membuat api unggun
Saung Pak Asep, Pantai Sawarna, Banten.
Saung Pak Asep, Pantai Sawarna, Banten

Kamu juga bisa menghemat biaya dengan membawa tenda dan bisa dipasang di area pinggit pantai yang sangat nyaman.

Makin penasaran kan? Yuk, segera singgahi pantai Sawarna ini. Apabila kamu hobi surfing, pantai ini sangat high recommended, lho. Soalnya banyak bule kece surfing di sana…

Oiya, ini saya share juga beberapa dokumentasi wisata saya di sana. Selamat menikmati.

IMG_20130609_111033
IMG_20130610_011130 IMG_20130610_011211
IMG_20130610_011721
IMG_20130610_011817 IMG_20130610_012544 IMG_20130610_012619 IMG_20130610_125232

15 Juni 2013

Iklan

Ada Tapi Yang Tak Usai

Senja semakin menguning. Entah mau melanjutkan tugas-tugas ini atau tidak, Shandy tampak ogah-ogahan mengerjakannya. Tugas kantor yang menumpuk beberapa hari ini akibat salah satu rekan editornya mendadak mengundurkan diri dari tempat dimana ia bekerja saat ini. Sebuah perusahaan penerbitan buku yang tidak teramat besar, tapi cukup berpenghasilan untuk menafkahi para karyawannya yang masih setia bertahan.

Tiba-tiba Shandy melirik kearah jendela kaca sebelah kanannya. Ia mengernyitkan dahi, langit sore kali ini cukup tak bersahabat baginya yang ingin melanjutkan perjalanan pulangnya menuju kampus. Sebagai mahasiswa yang juga seorang pegawai adalah hal sulit untuknya membagi fokus dan waktu jika keduanya sama-sama penting. Take it or leave it. Sekali mengambil keputusan, apapun resikonya, ya mesti dijalani dengan penuh tanggung jawab.

Sekeliling ruang kantor pun sudah sepi, hanya saja ada beberapa yang masih tinggal karena memang menunggu jam-jam macet usai. Jakarta kalau tanpa macet ya kurang afdol. Hanya pada saat hari-hari besar saja Jakarta menjadi dirinya sendiri. Menjadi bebas bernapas yang sebelumnya sudah sesak dengan kepulan asap knalpot dari beragam jenis kendaraan.

Hidup sebagai bagian dari para perantau di Ibukota ini, menjadikan Shandy sebagai sosok pribadi yang mandiri. Ia sangat solitaire. Hampir seluruh pelosok Jakarta ia sambangi. Sampai-sampai beberapa teman menyebutnya ‘Peta Hidup’. Bagaimana tidak, ketika kamu berencana pergi ke suatu tempat di Jakarta tapi bingung mau lewat mana, langsung saja hubungi Shandy, dijamin deh kamu akan mendapat berbagai jalur alternatif menuju tempat tujuanmu.

Berkas-berkas diatas meja kerja pun sudah dirapikan, earphone sudah bertengger di telinga Shandy. Ia memutuskan untuk bergegas ke kampus yang hanya beberapa kilometer dari kantornya itu. Kantor, kampus dan kos-kosan Shandy masing-masing berdekatan. Ia sengaja memilih lokasi ketiganya yang saling berdekatan. Biar gak capek, katanya. Pegawai yang juga ‘nyambi’ kuliah di tempat ia bekerja bisa dibilang cukup banyak. Jadi jangan heran kalau sedang musim UTS, UAS dan Skripsi banyak dari pegawai di kantor ini pulang beberapa jam lebih awal sampai-sampai ada yang minta izin cuti kantor lantaran mata kuliah yang diujikan cukup menguras perhatian. “Kuli oh Kuli…” adalah ungkapan yang sering Shandy ucapkan kala ia sedang merasa dibawah tekanan antara tugas kantor yang menumpuk dan jadwal ujian yang menghimpit waktu belajarnya.

“Hai, Shan… Kemane lo? Nguli?”, tegur Alex sambil mengaduk secangkir kopi yang dibawanya dari pantry.

“Yoi, Lex. Maklumlah… Mr. Busy… Hehe…”jawab Shandy sambil berjalan menuju pintu keluar ruangan staff redaksi.

Shandy tiba-tiba berhenti tepat beberapa langkah menuju pintu keluar. Matanya mengitari seluruh pojok ruangan. Ada Mbak Andin sang sekretaris senior sedang asyik telponan di meja kerjanya. Di sudut kiri ada beberapa anak magang sedang asyik cekikikan sambil melihat laptop salah satu dari mereka. Dan Alex. Alex masih menikmati kopi buatannya itu sambil diselingi aktivitasnya di laptop berwarna silver itu. Shandy berbalik menuju meja Alex.

“Lex. Emm… Soal di pestanya Ollie kemarin malam, sorry banget ya. Gw gak tahu kalau anak-anak sudah bikin skenario kayak gitu. Gw juga baru dijelasin tadi pagi sama Sonya dan Andre. Mereka juga minta maaf banget dan gak tahu kalau akhirnya malah bikin lo marah, gw marah.”, ungkap Shandy sambil berusaha duduk di kursi depan meja Alex. Mata Alex belum beranjak dari laptopnya. Seakan-akan berkata, “Yawda lo ngomong aja, gw dengerin kok.”

Shandy kikuk. Ia menunggu beberapa menit sampai Alex benar-benar mau menerima permintaan maafnya. Paling tidak, sekedar melihat kalau benar Shandy sudah meminta maaf dengan sungguh-sungguh. Alex yang saat ini ada didepannya tak berbeda dengan Alex yang ia temui beberapa tahun lalu. Ketika Shandy pertama kali bekerja di penerbitan kecil ini. Alex yang tidak begitu suka memakai pakaian dengan warna mencolok tampak begitu dingin dengan kacamata yang tak selalu dikenakannya itu, tentu telah membuat Shandy yang bisa.dibilang anak junior disana merasa ada hal yang menarik dari diri Alex. Dimana wanita sekarang senang mengikuti tren iklan shampoo dengan model rambut panjang terurai, namun Alex, tampilan rambutnya sangat maskulin. Potongan rambut yang lurus dan pendek sangat menegaskan kalau Alex adalah sosok wanita yang beda.

“Done!”, seru Alex dengan wajah sumringah.

Entah apa yang ia kerjakan. Sepertinya begitu penting dan harus segera diselesaikan saat itu juga. Shandy tetap menatap gerak-gerik Alex yang beralih dari laptop dan mengambil secangkir kopi yang sepertinya sudah mulai dingin.

“Well, Shane. Gw santai aja kok. Lo gak perlu kayak terdakwa korupsi gitu dong. Hahaha… Gw juga udah dijelasin Sonya tadi pagi, tapi si Andre belum ketemu gw seharian ini. Yang pasti gw sih santai aja. Ya namanya juga nge-party gitu. Banyak hal yang bisa terjadi kok, Shane.”,

Alex menjelaskan ketidak keberatannya perihal kejadian memalukan di pesta ulang tahunnya Ollie. Shandy dibuat mabuk oleh teman-temannya dan dibuat satu permainan ‘Dare or Truth’. Kondisi Shandy yang mabuk, membuat ia memutuskan memilih ‘Dare’ dengan tantangan mengungkapkan cinta pada salah satu wanita yang hadir di acara tersebut. Sialnya, Shandy yang mabuk memilih Alex sebagai target tantangannya.

“Tapi, Lex…”, lanjut Shandy namun seperti ada yang ia ingin katakan namun sulit diungkapkan saat ini.

“Kenapa? Tapi kenapa, Shane?”, tanya Alex yang merasa agak aneh dengan perkataan Shandy yang tiba-tiba terhenti.

“Emm, gak jadi. Hehe.. ng… gw duluan ya…”, jawab Shandy dengan kikuknya.

Shandy beranjak dari kursi yang ia duduki di depan meja Alex, Dan ia pun kembali melangkahkan kakinya menuju pintu keluar dengan wajah merah padam. Ia mengelus-elus dadanya. “Sabar Shane, belum saatnya…”, ujarnya pelan.

Alex mengernyitkan dahi dan cemberut. “Woy, ngegantung banget sih lo! Bikin PR aja!”, teriak Alex kearah Shandy yang makin hilang menjauhi ruangan staff redaksi.

Senja pun kembali dipeluk malam.

large

6 Juni 2013, di kamar berukuran 3 x 3m.

pada hampir tengah malam…

8 Juni 2009, Hampir Tengah Malam

 

Malam perlahan mengiring turun, menjelma hembusan lirih yang membangunkan embun-embun.

Aku gelisah. Membolak-balikkan badan diatas kasur yang pas sukuran badanku ini. Aku hanya menyaksikan turunnya embun dibalik jendela kamar berukuran 3×4 ini. Entah apa yang ada dipikiranku. Selimut tipis ini jauh cukup menghalau dingin, bukan dari angina tau embun, tapi oleh detak yang mati.

Aku menoleh kea rah jam dinding yang terlihat sedikit miring di dinding penyanggahnya. “ah, sebentar lagi!”, sahutku dalam hati. Kian gelisah. Aku pun merebahkan tubuhku kembali. Mencoba diam memejamkan mata. Berharap ketika membuka mata nanti, aku sudah berada di tempat lain. Entah dimana.

 

Pukul 00.00

Suatu hari aku membayangkan kita. Bercanda di teras rumah yang sering kita bayangkan bersama, akan kita bangun di masa depan. Kita bicara hal-hal yang sering kita sangsikan saat muda. Tentang dunia, cinta dan norma-norma yang dahulu gagal memisahkan kita. Betapa kuatnya kita merapalkan doa, menyelundupkan nama masing-masing kita diantara mantra-mantra. Pada doaku, namamu, beserta percikan cita cinta, kurapalkan setiap hari.

Kembali aku gelisah. Membayangkan segala ketidakpastian itu malah membuatku semakin gelisah. Sebatang rokok nikotin-tapi bertar tinggi-menghiasi jemari lentikku. Di ujung filternya melekat lipstick yang berasal dari bibir pasi. Asapnya mengembang di udara membentuk lingkaran-lingkaran, seperti balon dialog cerita komik, menjauh mejemba langit-langit kamarku. Kembali ku menatap keluar jendela, sorot mata kedinginan tanpa ekspresi.

“ya, kutunggu kau nanti sore, kasih. Seperti janjimu…”, ucapku lirih. Aku mematikan rokok yang sengaja tak kuhabiskan. Menutup jendela perlahan tetapi tetap saja jendela tua itu memekikkan bunyi engsel yang sudah berkarat.

Aku kembali merebahkan diri. Melebur dengan malam. Pekat.

 

9 Juni 2009, Matahari yang nakal mulai mengintip

 

Jika hidup semata pelarian, aku akan terus berlari. Seperti Chairil, berlari dan terus berlari, hingga hilang pedih perih.

“Selamat pagi, kamu.”
Kemudian aku, memikirkanmu dalam-dalam, seperti hatiku yang tenggelam di lautan katamu. Rayuan yang tak pernah ingkar untuk selalu hadir dalam cakap kita. Entah kopi itu, atau badai ciuman yang barusan; hati ini selalu berdesir dengan ikhlas saat kau menyapanya lewat telinga.

Aku sangat bersemangat akan hari ini. Hari yang kutunggu-tunggu untuk kita rayakan bersama. Hari burungmu.

Bersikeras ku memikirkan hadiah terindah untukmu. Ah, tak kunjung dapat. Bahkan terbersit pun tidak. Tak ada yang bisa menyampaikan segenap rasa dari palung dada ini kasih. Bahkan aku seringkali tak berakal. Ya, barangkali apabila cinta itu lebih dahulu daripada akal, aku memilih tak berakal untuk mencintaimu.

Masih teringat ketika kuharumi tubuhmu, karena hanya itu yang tersisa sejak kepergianmu kala senja musim itu. Seperti biasa, kehidupanmu diluar sana sungguh menyita waktu-waktu terindahmu untukku. Bahkan kau sesekali mencuri waktumu sendiri sekedar menemuiku di kedai kopi malam itu. Tak banyak percakapan, karena saling menatap saja sudah mewakili berjuta rasa. Beribu harap. Asa.

Aku terpendar sepi,
Menatap nanar masa depan kelak
Entah apa aku jadinya,
Begitupun engkau
Hanya saja,
Aku mulai terbiasa untuk berdiri
Tegap
Dan siap berjalan…
Menapaki setiap detik perjalananku
Menikmati setiap resahku
Menepis semua raguku

 

9 Juni 2009, Pertemuan Senja kita

 

Tak sekedar harap,
Kau sapa malamku
Tak hanya sekejap,
Kau sapu airmataku
Tak mungkin kulupa,
Kau isi sebagian hidupku
Tak akan mungkin,
Kau bisa terganti

Terkadang aku merasa riang saat malam datang. Karena hari-hari pertemuan kita pun perlahan mendekat. Kamu tahu? Semesta ini seperti hidup. Mereka memakan rindu dan cinta sebagai energinya, tentu saja; untuk mendekatkan kita. Tak pernahkah kamu sadari bahwa setiap hari kita makin dekat?

Ditempat ini, entah sudah berapa lama aku menanti. Kulirik jam kuno disudut kafe kecil ini. Ia seperti menunjukkan wajah semburat prihatinnya. Seraya berkata, ia hendak menghiburku, “aku enggan memutarkan jarum-jarumku. Biarlah ia berhenti sejenak. Hingga tak kau rasakan waktu.”

Iringan musik yang mengalun lembut di tempat ini mengingatkanku pada malam-malam basah kita. Dan kurasa hanya aku yang tahu bagian mana dari tubuhmu yang paling kau suka ketika kuciumi.  Ah, sungguh aku merindu. Kini… entah yang ke sekian kalinya aku menanti. Ditempat yang sama. Aku dan jam kuno disudut sana.

Dan senja berada pada tepian garis hitam. Perlahan masuk seakan tak kuasa menahan gelora jingga nya.

Sekali lagi, kita hanya berencana. Kan berjumpa kekasih hatiku ditempat yang terbiasa mendengar cakap kita. Sejenak duka merindu pun luluh seiring mentari yang kian menjauh. Ditelan pekat. Dan aku semakin kalut.

Kulihat siluet kendaraan yang dipayungi lampu-lampu jalan. Tak satupun kulihat siluetmu.

Kasih, melupakah kau?

Atau aku hanya perlu bersabar beberapa cangkir kopi lagi.

Atau sekedar berpura-pura membaca buku agar tak terkesan menunggu untuk sekian lamanya. Hari ini, aku menantikan saat-saat kau datang dan mengahmpiriku yang membawa rajutan rindu. Rindu yang kau tinggalkan sejak malam di musim itu.

Rindu itu pahit, berbuah manis. Dan aku sangat suka menyimpan rindu untuk kusemai di setiap perjumpaan kita.

Kali ini, rajutan rindu kubuat sangat manis saying. Beda dari sebelumnya.

Teruntukmu kekasih.

“mau pesan lagi mbak?”

Suara pelayan wanita itu mengagetkanku dan tersadar sudah jam 8 lewat. Ku lihat telepon selulerku. Tak ada tanda kabar darimu. “Air mineral saja ya mbak, tidak dingin. Terima kasih ya…”, dan aku memutuskan memesan air mineral. Untuk yang ke sekian kalinya setelah bebrapa cangkir kopi kupesan sebelum ini.

Kasih, apakah sebegitu kuatnya jiwa ini hingga kau memberiku waktu untuk terus bersabar. Menantimu berharazp kita rayakan harimu. Membayangkan masa depan dengan segala ketidakpastiannya. Mengharapkan para malaikat di sisi kanan kiri kita mengaminkan. Kita hanya cukup mengimani saja.

 

9 Juni 2009, Hampir Tengah Malam

 

Aku yang masih mencoba terbiasa berdiri,
Mencoba lebih bijak melihatmu jauh disana
Mencoba lebih jumawa melihat diri sendiri
Mencoba lebih lapang akan masa
Masa yang terus mengikuti kita
Masa yang kelak akan menenggelamkan kita
Pada kenyataan dan keadaan

Aku tertawa kecil dan berjalan melihat sekitar trotoar jalan ini yang cukup basah ditumpahi jatuhan duka terindah langit. Sambil kutenteng sepatu merah marun berhak tinggi yang sengaja kubeli untuk pertemuan kita kali ini. Hanya sekedar membuatnya serasi dengan rajutan rinduku ini. Namun kau tak kunjung datang. Nafasmu terdengar sangat jauh. Aroma tubuhmu semilir tertiup angin entah akan dibawanya kemana.

Sampai pada perempatan jalan ini. Aku mendongak keatas. Melihat lampu-lampu jalan memayungiku dengan gemerlapnya.

Dan aku menekuri malam ini dengan geliat tawa mengasihani jiwa yang tetap tegar merajut duka termanisnya.

Pada saat itu,
Aku tetap mencoba untuk berdiri
Meyakini penglihatanku,
Mengakui keberadaanku,
Membiarkan masa membawamu
Jauh bersama mereka,
Mereka akan masa lalu dan juga masa depanmu

Aku tetap disini,
Mencoba untuk lebih bertahan dan tetap berdiri
Pada semua harapanku,
Pada setiap asa ku,
Yang hampir goyah karena hilang tumpuan
Yang hampir merapuh ditengah kenyataan
Yang hampir musnah bersama angin, angin kesedihan

Tapi aku,
Aku jiwa yang akan tetap berdiri meski dengan tumpuan terakhir.

___

 

 

 

antara siang dan malam = …..

kali ini aku punya sebuah rahasia

dan aku akan melengkapi dunia

yang hanya sekedar memiliki siang dan malam

saat siang adalah terang

saat malam adalah gelap

 

aku akan menyelipkan sesuatu diantaranya

dan aku yakin semua akan terpikat

 

aku berpikir,

rasa apa yang akan aku selipkan

aku meracik berbagai rasa yang kutuang dalam tabung pencampur rasa

yak,

rasanya tidak manis seperti siang

dan tidak pahit seperti malam

aku tahu….

dan kemudian aku tuangkan rasa hangat

lalu, warna…

ah, warna terang itu terlalu jelas,

tetapi bukan hitam seperti malam…

terlalu pekat… ck!

ah, yes… aku tahu…

warnanya adalah elegan nan syahdu

tapi sepertinya ada yang kurang,

ah, iya… aku harus menambahkan perasaan yang akan ditimbulkannya

bukan,

bukan perasaan gembira seperti siang

bukan pula perasaan gundah seperti malam

tetapi, damai.

 

DONE!!!

aku terkekeh kecil…

selesai sudah Senja ini ku buat…

 

 

gitar, ronde dan di antara mereka pecinta malam…

Well, membicarakan cinta pasti gak ada habisnya. Selelah apapun kita, sejengah apapun kita,p asti masih akan ada ruang untuk kita bicarakan. Cinta, rasa mendasar yangg dimiliki seluruh umat manusia. Cinta yang ada, adanya Cinta. Cinta yang apa adanya, bukan cinta yang ada apanya.

Cinta yang diungkapkan dikala cinta itu memunculkan rasanya. Bisa dimana saja, bisa kapan saja, dan bisa bagi siapa saja. Cinta ini banyak membicarakan tentang mereka. Cinta yang merupakan cinta pertama atau cinta-cinta selanjutnya.

Sosok pencinta yang membuat diri ini mencinta untuk yang kesekian kalinya. Dia dengan segala atribut keindahannya. Dia dengan kecintaannya. Cinta dengan mereka yang pernah mengisi relung hati terdalam kita. Membuat kita mengerti apa suka dan duka. Bagaimana menangis dan tertawa bersamaan.

Saat cinta tiba, saat cinta menyapa, pastikan ruang hatimu masih tersisa walau hanya sepetak saja. Dibawah lampu tempat itu; Aku berdampingan dengan malam, membisikkan satu kalimat tidak palsu, Aku cinta kamu. Dan aku yakin kamu tahu.

Mencintai itu istimewa karena dibutuhkan kekuatan untuk melewati prosesnya. Seperti mencampur racikan warna untuk menghasilkan warna turquoise. Terkadang sedih, marah, bahagia, bosan juga tak urung datar. Seperti laut dan langit yang saling memandang. Namun tak mengerti kemana membawa perasaan itu.

Seperti laut dan langit yang hanya bisa saling memandang. Tanpa mengerti mau dinamakan apa rasa itu. Hanya hujan yang dapat mempersatukannya. Langit adalah ruang kita menyusup serpihan-serpihan kata. Melintasi deru hujan. Dan cinta memang tak pernah bisa dimengerti. Seperti jingga yang setia melukis saat senja. Menaungi rindu yang selalu menunggu.

Dan akhirnya pada saat itu, angin membawaku ketepian horizon. Menyentuh wajahnya. Membentuk komposisi warna pada pertemuan kali itu.

Cinta itu merdu sayang, seperti alunan burung hantu yang merindu.
Cinta yang sabar mengajarku untuk mengeja rindu dengan terbata pada setiap lariknya.
Kubiarkan itu menggores denyut nadiku, yaitu rasa yang tajam dan tegas ketika dipertanyakan keberadaannya; Cinta.

Karena cinta dan air mata, terangkum dalam rindu yang menggebu. Dan aku malam yang melindungimu, menjaga lelap di tidurmu. Dan cinta, sebuah animasi yang kompleks. Lambang perasaan yang terungkap puitis. Walau dera, luka, dan siksa termasuk di dalamnya.
Mencintai, detik waktu yang kulalui untuk menanti. Hingga tiba kalanya, cinta mencintaiku.

______

15.4.12