Ada Tapi Yang Tak Usai

Senja semakin menguning. Entah mau melanjutkan tugas-tugas ini atau tidak, Shandy tampak ogah-ogahan mengerjakannya. Tugas kantor yang menumpuk beberapa hari ini akibat salah satu rekan editornya mendadak mengundurkan diri dari tempat dimana ia bekerja saat ini. Sebuah perusahaan penerbitan buku yang tidak teramat besar, tapi cukup berpenghasilan untuk menafkahi para karyawannya yang masih setia bertahan.

Tiba-tiba Shandy melirik kearah jendela kaca sebelah kanannya. Ia mengernyitkan dahi, langit sore kali ini cukup tak bersahabat baginya yang ingin melanjutkan perjalanan pulangnya menuju kampus. Sebagai mahasiswa yang juga seorang pegawai adalah hal sulit untuknya membagi fokus dan waktu jika keduanya sama-sama penting. Take it or leave it. Sekali mengambil keputusan, apapun resikonya, ya mesti dijalani dengan penuh tanggung jawab.

Sekeliling ruang kantor pun sudah sepi, hanya saja ada beberapa yang masih tinggal karena memang menunggu jam-jam macet usai. Jakarta kalau tanpa macet ya kurang afdol. Hanya pada saat hari-hari besar saja Jakarta menjadi dirinya sendiri. Menjadi bebas bernapas yang sebelumnya sudah sesak dengan kepulan asap knalpot dari beragam jenis kendaraan.

Hidup sebagai bagian dari para perantau di Ibukota ini, menjadikan Shandy sebagai sosok pribadi yang mandiri. Ia sangat solitaire. Hampir seluruh pelosok Jakarta ia sambangi. Sampai-sampai beberapa teman menyebutnya ‘Peta Hidup’. Bagaimana tidak, ketika kamu berencana pergi ke suatu tempat di Jakarta tapi bingung mau lewat mana, langsung saja hubungi Shandy, dijamin deh kamu akan mendapat berbagai jalur alternatif menuju tempat tujuanmu.

Berkas-berkas diatas meja kerja pun sudah dirapikan, earphone sudah bertengger di telinga Shandy. Ia memutuskan untuk bergegas ke kampus yang hanya beberapa kilometer dari kantornya itu. Kantor, kampus dan kos-kosan Shandy masing-masing berdekatan. Ia sengaja memilih lokasi ketiganya yang saling berdekatan. Biar gak capek, katanya. Pegawai yang juga ‘nyambi’ kuliah di tempat ia bekerja bisa dibilang cukup banyak. Jadi jangan heran kalau sedang musim UTS, UAS dan Skripsi banyak dari pegawai di kantor ini pulang beberapa jam lebih awal sampai-sampai ada yang minta izin cuti kantor lantaran mata kuliah yang diujikan cukup menguras perhatian. “Kuli oh Kuli…” adalah ungkapan yang sering Shandy ucapkan kala ia sedang merasa dibawah tekanan antara tugas kantor yang menumpuk dan jadwal ujian yang menghimpit waktu belajarnya.

“Hai, Shan… Kemane lo? Nguli?”, tegur Alex sambil mengaduk secangkir kopi yang dibawanya dari pantry.

“Yoi, Lex. Maklumlah… Mr. Busy… Hehe…”jawab Shandy sambil berjalan menuju pintu keluar ruangan staff redaksi.

Shandy tiba-tiba berhenti tepat beberapa langkah menuju pintu keluar. Matanya mengitari seluruh pojok ruangan. Ada Mbak Andin sang sekretaris senior sedang asyik telponan di meja kerjanya. Di sudut kiri ada beberapa anak magang sedang asyik cekikikan sambil melihat laptop salah satu dari mereka. Dan Alex. Alex masih menikmati kopi buatannya itu sambil diselingi aktivitasnya di laptop berwarna silver itu. Shandy berbalik menuju meja Alex.

“Lex. Emm… Soal di pestanya Ollie kemarin malam, sorry banget ya. Gw gak tahu kalau anak-anak sudah bikin skenario kayak gitu. Gw juga baru dijelasin tadi pagi sama Sonya dan Andre. Mereka juga minta maaf banget dan gak tahu kalau akhirnya malah bikin lo marah, gw marah.”, ungkap Shandy sambil berusaha duduk di kursi depan meja Alex. Mata Alex belum beranjak dari laptopnya. Seakan-akan berkata, “Yawda lo ngomong aja, gw dengerin kok.”

Shandy kikuk. Ia menunggu beberapa menit sampai Alex benar-benar mau menerima permintaan maafnya. Paling tidak, sekedar melihat kalau benar Shandy sudah meminta maaf dengan sungguh-sungguh. Alex yang saat ini ada didepannya tak berbeda dengan Alex yang ia temui beberapa tahun lalu. Ketika Shandy pertama kali bekerja di penerbitan kecil ini. Alex yang tidak begitu suka memakai pakaian dengan warna mencolok tampak begitu dingin dengan kacamata yang tak selalu dikenakannya itu, tentu telah membuat Shandy yang bisa.dibilang anak junior disana merasa ada hal yang menarik dari diri Alex. Dimana wanita sekarang senang mengikuti tren iklan shampoo dengan model rambut panjang terurai, namun Alex, tampilan rambutnya sangat maskulin. Potongan rambut yang lurus dan pendek sangat menegaskan kalau Alex adalah sosok wanita yang beda.

“Done!”, seru Alex dengan wajah sumringah.

Entah apa yang ia kerjakan. Sepertinya begitu penting dan harus segera diselesaikan saat itu juga. Shandy tetap menatap gerak-gerik Alex yang beralih dari laptop dan mengambil secangkir kopi yang sepertinya sudah mulai dingin.

“Well, Shane. Gw santai aja kok. Lo gak perlu kayak terdakwa korupsi gitu dong. Hahaha… Gw juga udah dijelasin Sonya tadi pagi, tapi si Andre belum ketemu gw seharian ini. Yang pasti gw sih santai aja. Ya namanya juga nge-party gitu. Banyak hal yang bisa terjadi kok, Shane.”,

Alex menjelaskan ketidak keberatannya perihal kejadian memalukan di pesta ulang tahunnya Ollie. Shandy dibuat mabuk oleh teman-temannya dan dibuat satu permainan ‘Dare or Truth’. Kondisi Shandy yang mabuk, membuat ia memutuskan memilih ‘Dare’ dengan tantangan mengungkapkan cinta pada salah satu wanita yang hadir di acara tersebut. Sialnya, Shandy yang mabuk memilih Alex sebagai target tantangannya.

“Tapi, Lex…”, lanjut Shandy namun seperti ada yang ia ingin katakan namun sulit diungkapkan saat ini.

“Kenapa? Tapi kenapa, Shane?”, tanya Alex yang merasa agak aneh dengan perkataan Shandy yang tiba-tiba terhenti.

“Emm, gak jadi. Hehe.. ng… gw duluan ya…”, jawab Shandy dengan kikuknya.

Shandy beranjak dari kursi yang ia duduki di depan meja Alex, Dan ia pun kembali melangkahkan kakinya menuju pintu keluar dengan wajah merah padam. Ia mengelus-elus dadanya. “Sabar Shane, belum saatnya…”, ujarnya pelan.

Alex mengernyitkan dahi dan cemberut. “Woy, ngegantung banget sih lo! Bikin PR aja!”, teriak Alex kearah Shandy yang makin hilang menjauhi ruangan staff redaksi.

Senja pun kembali dipeluk malam.

large

6 Juni 2013, di kamar berukuran 3 x 3m.

Iklan

“Self Check Out Service” di Pasar Swalayan

Sebagai salah satu anggota dari HAKI (Himpunan Anak Kost Indonesia) setiap bulan yang saya lakukan tentu tidak jauh berbeda dengan para ibu-ibu rumah tangga. Saya harus menyempatkan waktu untuk mampir ke pasar swalayan untuk belanja kebutuhan selama satu bulan kedepan. Meski tidak serumit ibu-ibu rumah tangga yang sebenarnya, kebutuhan yang setiap bulannya saya belanjakan misalnya deterjen, sabun mandi, pasta gigi, shampoo dan beberapa barang ‘printilan’ seperti tissue dan sendok plastik (habis pakai, buang. =D ).

Well, dunia tempat kita tinggal saat ini sepertinya tidak bisa melepaskan diri dari kemajuan teknologi informasi dan komunikasi ya. Mulai dari sektor pendidikan, bisnis, hingga sektor pemerintahan semua menggunakan teknologi ‘e’. Contohnya, e-learning untuk dunia pendidikan, e-commerce untuk sektor bisnis, dan e-government untuk sektor pemerintahan. Bahkan saat ini dunia perbukuan pun tak mau kalah dengan konsep e-book-nya itu. Mungkin beberapa tahun lagi akan kita temukan ‘e-anu’, ‘e-inu’, dan entah ‘e’ apalagi nantinya.

Suatu perkembangan teknologi dapat memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Namun, di sisi lain juga memiliki dampak dalam kehidupan manusia. Terutama kaitannya di bidang pemasaran yang terjadi dalam proses jual beli di suatu perusahaan atau badan usaha untuk mempromosikan produknya. Dampak dari teknologi di bidang pemasaran dapat berupa dampak positif atau yang membawa kemajuan, tetapi juga dapat berupa dampak negatif atau yang membuat kemunduran.

Salah satu dampak positif dari teknologi dalam kehidupan manusia, terutama di bidang pemasaran yakni proses penyampaian informasi secara cepat. Jika zaman dulu, dalam memasarkan produk harus menunggu beberapa minggu atau beberapa bulan baru tersampaikan. Tetapi, pada zaman sekarang ini, dengan kemajuan teknologi informasi para penjual maupun pembeli tidak perlu menunggu lama-lama untuk dapat melihat produk. Karena dapat diakses melalui sebuah jaringan internet maupun situs – situs terkait.
Dampak positif yang lain dari perkembangan teknologi adalah proses transaksi yang dapat berlangsung secara cepat. Tidak perlu antri lama – lama di kmtor pos untuk mengirim maupun mengambil uang. Adanya fasilitas ATM (Anjungan Tunai Mandiri) adalah salah satu sarana penunjang dalam sebuah kelancaran pemasaran barang dan jasa. Pengenalan produk barang dan jasa suatu perusahaan maupun badan usaha melalui media periklanan, baik itu media elektronik maupun media cetak. Seperti televisi, pemasangan iklan lewat internet yang saat ini banyak beredar. Dan media cetak seperti koran, majalah, buletin. Merupakan bukti adanya dampak yang berpengaruh baik atau positif bagi teknologi yakni dibidang pemasaran. Perkembangan teknologi yang terus berkembang membuat massyarakat dalam menjalankan kehidupannya menjadi semakin maju dan tidak gagap teknologi. Artinya dapat mengikuti perubahan zaman yang terjadi yang ditandai dengan adanya perubahan dan pengembangan teknologi yang berproses secara bertahap.

Mesin Self Check Out Pertama

Mesin ini diciptakan oleh Dr. Howard Schneider, yang dipatenkan di USA No.5083638 dan 5.168961. Dr. Schneider menyebutnya mesin robot Self Check Out, artinya pelanggan dapat membayar barang belanjaannya sendiri dengan credit card melalui mesin ini, tanpa berhubungan lagi dengan kasir.

Perusahaan bernama Optimal Robotics  dibentuk oleh  Scheneider di garasinya,  sesuai dengan alamat yang  terdaftar di Sertifikat Patennya. Mesin ini menunjukkan hasil yang bagus di pasar swalayan Chopper di tahun 1990-an, kemudian melibatkan pasar swalayan Kroger, dan setelah itu diikuti oleh banyak pasar swalayan di seluruh Amerika Serikat, Canada, UK, dan Australia.

Teknologi Mesin Self  Check out ini pertama kali dibuat oleh Perusahaan Optimal Robotics go public di NASDAQ di tahun 1990-an dengan manajemen baru, lalu Dr. Schneider mengundurkan diri. Akhirnya perusaahan ini menjual teknologinya pada NCR dan Fujitsu. Setelah itu keluar dari bisinis mesin self check Out dan  mengganti namanya menjadi Optimal Group.

Proto type (contoh asli) mesin ini diperkenalkan oleh NCR  di tahun 1997. Pada tahun 2003, mesin-mesin otomatis ini  telah tersebar luas diseluruh dunia yang di-supply oleh NCR,Fujitsu/ICL dan IBM.

Pasar swalayan pertama yang memakai sistem self check out  adalah Price Chopper di Clifton Park, New York pada tahun 1992.

WalMart Self Check Out Service
WalMart Self Check Out Service

“Bagaimana jika si pelanggan tidak men-scan/membayar seluruh barang belanjaannya ?”

Ketika sebuah perusahaan memutuskan untuk menggunakan mesin self check out ini, tentunya perusahaan tersebut juga telah menyiapkan hal-hal terburuk yang kemungkinan bisa terjadi. Misalnya, ketika ada pelanggan yang tidak menbayar seluruh barang yang dibelanjakan atau tidak men-scan seluruh barang belanjaannya, atau adanya kendala saat melakukan pembayaran misalnya terjadi kelebihan pembayaran yang tidak seharusnya.

Jika di Price Chopper di Clifton Park, New York, di sekitarnya dilengkapi kamera CCTV. Pasar swalayan ini pun dilengkapi pintu yang bersensor, dan berbunyi seketika bilamana  melacak barang-barang yang tidak terbayar. Dan anggota keamanan, merangkap greeter biasanya turun tangan cepat kalau alat itu berbunyi disampingnya.

Bagaimana dengan pasar swalayan di tempat kita? Sudahkah memenuhi paling tidak tiga hal utama diatas?

Kemungkinan pelanggan tidak membayar pasti ada, tetapi petugas kepolisian disana  yang setiap saat datang menjemput, memborgol, lalu membawa orang tersebut ke kantor polisi untuk diproses lebih lanjut dan mencatat perbuatan kriminalnya. Criminal record ini kelak amat menyusahkan siapa saja kalau  mencari kerja atau keperluan lainnya.

Oleh sebab itu jarang orang melakukan perbuatan ini, karena punishment yang didapat tidak sesuai dengan harga barang yang diselundupkan.

Nah, siapkah kita dengan sistem seperti ini? Tentu tidak hanya siap dari sisi si penyedia layanan, dalam hal ini pengelola Pasar Swalayan saja, namun kita sebagai pelanggan juga harus siap untuk beralih dari interaksi sosial dengan petugas kasir ke sebuah mesin yang sama interaktifnya.

We’re Not Broken Just Bent…

Pertama denger lagu ini darimana ya? Lupa. hehe… Saya seringkali melihat chart top 40 billboard dunia sebelum memulai aktivitas di kantor. Mengapa? Hanya sebagai mood booster saja untuk memulai hari. maka saya pilihlah bertamasya melihat deretan tangga lagu dunia tersebut. Mampirlah saya pada salah satu single dari penyanyi solo wanita asal Amerika Serikat, Pink. Siapa tak kenal dia? Diskografi nya pun tidak sedikit. Di tahun 2012 kemarin ia merilis album dengan tema ‘The Truth About Love’. sepertinya dalam album ini memang bertemakan cinta, melankolis, mempertanyakan sebuah cinta sejati. Kebenaran dan kepercayaan di dalam cinta yang sudah dirajut sekian lama. Ah! Lama-lama saya jadi ikutan melankolis nih…

Pnk-Just-Give-Me-A-Reason

Just Give Me a Reason

Just give me a reason

Just a little bit’s enough

Just a second we’re not broken just bent

And we can learn to love again

Duet yang tak hanya PAS dari materi vokal, musik dan lirik ini sangat mengganggu hari-hari saya dalam beberapa bulan terakhir. Bagaimana tidak? Lirik yang keren, dibuat seperti percakapan antara cewek dan cowok. Walaupun awalnya Pink hanya menyanyikan lagu ini sendiri, tapi ia merasa ini akan seru kalau dibuat seperti sebuah percakapan yang mengungkapkan pedapat dari masing-masing pihak. Lagu ini mengisahkan tentang hubungan percintaan yang semakin hambar. Dimulai dengan kalimat-kalimat sederhana seperti ‘Right from the start, you were a thief, you stole my heart, and i your willing victim.’ ini dibawakan Pink sangat ‘ngena’ banget. Ceritanya, si cewek (Pink) mengisahkan kembali awal mula pertemuan mereka berdua. Lanjut dengan cerita dari si cowok (Nate) yang sebenarnya ia pun tidak tahu mengapa ada keganjalan-keganjalan dalam hubungan mereka. Meski pernah ada peristiwa yang menyakitkan si cowok lantaran kebohongan-kebohongan yang dibuat oleh si cewek di masa lalu, ‘You used to lie so close to me’. (kalau gak salah maksudnya sih gitu… CMIIW)

Nah, siapakah Nate ruess?

Aaaaaaaaaaaaakkk… Maafkan ya kalau saya mulai pembahasan tentang Nate dengan teriakan histeris semacam itu. Entah bagaimana bisa, saya seperti terlena dengan duet ini. Duet Pink dan Nate ini telah membuat suasana baru bagi para penggemar musik mereka. Nathaniel Joseph “Nate” Ruess ialah seorang penyanyi dan juga penulis lagu asal Arizona dan juga seorang vokalis dari sebuah band Indie Pop bernama Fun. .  Jenis vokal yang unik membuat duet ini seperti saling mengisi, mengimbangi vokal Pink yang khas dengan jenis vokal Nate yang ringan seperti berada dalam mobil yang bisa bungee jumping.

Untuk video klipnya, kita bisa lihat ada beberapa scene yang dibuat guna menjelaskan arti dari lirik lagu ini. Adegan Pink dan Nate juga dibuat simple saja dengan posisi berhadap-hadapan. Malah Pink yang lebih dieksplorasi untuk beradegan dengan model cowok pendukung. Sumber dari behind the scene video “Just Give Me a Reaso’n ini, menyebutkan bahwa model cowoknya itu masih berusia 20 tahun lho. Wow… ^^

Pink-ft.-Nate-Ruess-Just-Give-Me-A-Reason-2013-1080p

Karena sebegitu populernya lagu ini di deretan tangga lagu di Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa, lagu ini ternyata membuat musisi lain tergelitik untuk mengaransemen ulang lagu ini. Sampai-sampai salah satu finalis ajang pencarian bakat di salah satu stasiun TV Swasta nasional pun menyanyikan lagu ini. Meski begitu, banyak pula para musisi atau bahkan para penggemar dari kedua penyanyi ini pun turut mengaransemen ulang lagu ini, salah satunya Tiffani yang mengajak Trevor untuk tidak hanya mengaransemen ulang tetapi juga membuat video klipnya.

Senang sekali akhirnya bisa menuliskan apa yang saya suka disini. Apabila ada hal-hal yang kurang berkenan, mohon dimaklumi. Selamat mendengarkan… 😀

___

ISF, 4 Juni 2013.

Lelang Buku Bayar Karya ?

Halo…

Apa yang terlintas di pikiranmu ketika melihat judul postingan ini? ‘Lelang Buku Bayar Karya?’ terdengar menarik sekaligus membuat kita sebagai pecinta buku penasaran untuk mengetahui lebih lanjut apa dan bagaimana lelang ini berlangsung, bukan? 😀

Oiya, sekedar informasi, Lelang Buku Bayar Karya ini adalah salah satu kegiatan yang berlangsung di Grup Love Books A Lot ID yang disponsori oleh Mas Yayan Sopyan, dimana beliau juga merupakan salah satu Lobaloiders, begitulah sebutan kami untuk para anggota grup LBALID.
Ada 3 buah buku lawas tapi kondisi masih baru yang akan dilelangkan. Keren kan? hehe…

Aturan mainnya simple saja sih. Di kegiatan ini, yang menentukan pemenang lelang adalah satu dari Lobaloiders yang mendaftarkan diri juga mengikuti aturan mainnya dengan membuat tulisan sebanyak-banyaknya selama bulan Juni. Lobaloiders disini dipacu untuk membuat karya dalam bentuk tulisan selain puisi, sajak atau resep masakan tentunya ya (hihi), sebanyak-banyaknya dan diposting di blog pribadi masing-masing. Dalam kegiatan ini, memang bertujuan untuk membuat kita, Lobaloiders, mampu menulis cepat. Biasanya kalau curhatan sih yang cepet ya? XD

Kegiatan ini hanya berlangsung secara tertutup untuk Lobaloiders saja. Tapi, seiring berjalannya waktu bisa jadi ini sebagai kegiatan yang akan dibuka untuk umum. Tentunya sebagai apresiasi kami dalam dunia literasi, khususnya buku.

Wah, sudah gak sabar mau mulai utak-atik blog dan tentunya mencari inspirasi sebanyak-banyaknya. Selamat berkarya, selamat menulis.

image

@LoveBooksALotID
Read A Lot, Share A Lot

(jangan) berlebih-lebihan…

Sungguh, segalapun kalau berlebihan itu tak akan baik.

Tuhan pun berkata dalam kitabNya.

Maka siapalah aku yang hendak berlebih-lebihan bahkan telah seringkali melakukannya.

Seperti mencinta, sudah berlebihan.

Seperti memuji, pun berlebihan.

Seperti menangis, juga berlebihan.

Bahkan kerap membenci dengan berlebihan.

Siapalah aku yang telah menaruh harapan yang berlebihan.

Apalah aku yang bisa melakukan semua dengan berlebihan.

Kembali aku dihadapkan oleh kenyataan atas sesuatu yang berlebihan.

Satu harapan yang kutaruh sangat amat berlebihan.

Pada sosok yang harusnya melakukan hal yang lebih dari apa yang aku lakukan.

Suatu harapan akan keberjayaan yang terlalu berlebihan, menurutku.

Karena, siapalah aku, apalah aku.

 

Dalam Tangis yang Tak Lelahnya Berlebih-lebihan

kebon sirih, 16 Mei 2013

[Resume]: Sesi #Sharing Group WA edisi 29 April 2013 “Indie atau Self Publishing”

Indie atau Self Publishing

Resumed by Djamall

Perkembangan teknologi dan internet telah mempertemukan saya dengan banyak teman. Berkumpul dalam satu wadah, berkenalan, berbincang-bincang lewat dunia maya kemudian timbul  rasa nyaman sehingga terjalin keakraban antar individu. Bertemu dengan teman-teman dengan minat yang sama bukan tidak mungkin akan  mempercepat apa yang kita tuju. Jika melakukan sendiri sulit, mungkin dengan bersama-sama bisa mempermudah.
Informasi tersebar luas di dunia maya. Apapun yang kita cari mungkin bisa dengan mudah di dapatkan. Belajar tak lagi harus di sekolah, kita bisa belajar dari mana dan kapan saja, banyak orang-orang yang bergelut di bidangnya dengan senang hati membagi ilmunya di media sosial, website, portal maupun blog. Sampai ada sebutan Google Univesity, mungkin istilah itu lahir dari banyaknya orang-orang non akademis yang bisa mahir dengan belajar otodidak atau sekedar tau dari google. Google memberikan jawaban-jawaban akan sesuatu yang ingin kita ketahui.
Ok, sebelum pembahasannya melenceng jauh mending langsung pokoknya saja. Hehe. Sudah seminggu di grup Whatsapp Klub di adakan sharing dan review buku oleh masing-masing membernya. Karna dengan begitu di harapkan tiap member aktif untuk saling berbagi pengetahuan yang di ketahui ke teman-temannya yang lain di grup. Karna selain dapatkan banyak teman dengan saling berbincang-bincang kita juga dapatkan pengetahuan-pengetahuan baru dari apa yang masing-masing kita bagi. Sharing perdana waktu itu di buka oleh isti  dan saya.
Beragamnya materi bisa di bahas lewat diskusi, bertukar pikiran dan saling membagi apa masing-masing member ketahui kepada member yang lain. Semalam senin , 29 April 2013 pukul 20.00 Wib. Materi yang di bagi oleh Iska Meta Furi adalah tentang Self Publishing atau Penerbit indie yang dia dapatkan dari berbagai sumber di internet.
– Iska Meta Furi – Grup KB JKT: Assalammu’alaikum wr wb. Selamat malam sahabat klub buku, Kali ini saya, Meta akan membawakan sharing dengan tema indie/self publishing.
Penolakan naskah menjadi semacam “hantu” yang menakutkan bagi penulis, terutama penulis pemula. Berkali-kali karya yang diajukan selalu mentok di meja redaksi. Sudah menjadi pemandangan yang biasa jika para penulis menjajakan karyanya dari pintu ke pintu penerbit. Ada pula yang mengeluhkan kurang transparannya penerbit, jika karya kita telah diterbitkan. Misalnya saja soal pembagian royalti. Bila buku kita sudah diterbitkan di pasaran dan terjual, penulis kerap dipusingkan dengan royalti yang tidak bisa dinikmati langsung. Ada yang mengemplang hasil royalti, ada pula yang memberikannya “setetes demi setetes”.
Namun, saat ini, hal-hal menjengkelkan tadi secara perlahan mulai dapat teratasi oleh mereka yang membentuk sebuah penerbitan indie. Inti dari penerbitan indie atau self publishing adalah menerbitkan naskah sendiri, tidak bergantung pada penerbit besar yang telah mapan. Penerbit indie bisa dibilang sebuah alternatif untuk menerbitkan buku yang dilakukan oleh penulis independen.
Beberapa keuntungan dari penerbitan indie, yaitu kita tidak perlu mengikuti seleksi naskah yang biasanya ketat, berbelit, dan lama; penyuntingan, desain cover, sampai metode berpromosi ada di tangan penulis; kalau bukunya laris, keuntungan yang kita peroleh bisa lebih besar 50 sampai 100%. Namun, di samping keuntungan tadi, kita juga harus melihat beberapa kerugiannya, yaitu kita lebih kerepotan, karena selain menulis, kita pun harus mengurusi penerbitannya, dan mungkin pemasaran; jika buku kita tidak laku, maka kerugiannya ditanggung sendiri; tidak ada seleksi naskah berarti tidak ada ukuran soal kualitas naskah kita. Penerbitan indie mulai terlihat peningkatan seiring dengan kemajuan teknologi penerbitan, misalnya fotokopi, print on demand (mencetak atau menerbitkan sesuai permintaan), website, dan blog pribadi. Meskipun memiliki persentase pasar yang kecil dalam hal pemasaran, dibandingkan dengan penerbit pada umumnya, tetapi ini menjadi sebuah bentuk baru dalam bidang penerbitan buku. Memilih menerbitkan buku sendiri bisa dikatakan kita menjadi “penerbit” pula.
Proses menerbitkan indie karya tulis kita cukup sederhana. Pertama, tentu saja yang harus dilakukan adalah menulis naskahnya. Kedua, proses menyunting (mengedit). Kalau masih ragu oleh kemampuan mengedit, kita tinggal membayar editor profesional atau meminta bantuan teman yang berkompeten. Ketiga, mengatur tata letak (layout). Keempat, mendesain sampul (cover). Proses layout dan desain cover juga bisa memanfaatkan editor profesional atau meminta bantuan teman. Kelima, mencetak naskah, lalu mencari nomor International Standart Book Number (ISBN). ISBN sendiri dapat diperoleh di Perpustakaan Nasional dengan mengeluarkan biaya sebesar Rp. 25.000, atau Rp. 60.000 untuk barcode dan nomor ISBN. Proses terakhir adalah distribusi atau memasarkan. Untuk promosi bisa memanfaatkan situs jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter, atau mendiskusikannya kecil-kecilan. Ada beberapa cara untuk menerbitkan naskah secara indie. Pertama, terbitkan sendiri sepenuhnya. Kedua, terbitkan bersama komunitas. Dan ketiga, terbitkan dengan kerja sama penerbit indie.
Lalu, yang perlu diingat bahwa zaman telah berubah. Ada kecenderungan penerbit mereposisi haluan penerbitannya. Kini, hanya ada beberapa penerbit yang mengambil spesialisasi penerbitan, misalnya KB yang tetap konsisten menjadi penerbit buku-buku kebahasaan atau Salemba Empat yang konsisten menerbitkan buku perguruan tinggi.
Kecenderungan yang saya maksud adalah penerbit menjadi general publisher yang melebarkan kategori jenis terbitan maupun menciptakan imprint baru. Lihat saja Penerbit AK yang sebelumnya dikenal kental sebagai penerbit buku Islam, kini melebarkan kategori menerbitkan buku anak Islam dan Umum, buku motivasi, buku keterampilan, dan buku lainnya yang tidak mutlak berwarna Islam. BP yang kental dengan warna buku sastra terakhir melebarkan sayapnya ke buku-buku anak meskipun tentu juga berorientasi sastra, tetapi sebuah genre yang diperluas. Beberapa penerbit mayor buku pelajaran kini mencoba melebarkan sayap ke buku-buku umum.
Ini sebuah fenomena menarik yang harus dicermati para penulis. Apakah penerbit besar akan tergusur oleh geliat penerbit indie (dikarenakan biasnya idealisme mereka yang terkalahkan oleh kebutuhan pasar), atau penerbit indie yang mati di tengah jalan (dikarenakan kurang “terpercayanya” kualitas tulisan,yg masih dipandang sbelah mata?).
Nah.. Bagaimana pendapat teman-teman terhadap fenomena tersebut? Lalu adakah keyakinan kalian untuk menerbitkan buku/tulisan kalian secara indie/self publishing? Silakan dijawab 🙂
–         Dhila – Grup KB: sebagai salah seorang yang pernah menerbitkan karya secara self publish, sy berpendapan bahwa indie dan penerbutan.indie berbeda. Indie. Menurut saya adalah karya yg tidak bakal saya temukan di oenerbut mayor. Bukan karya yang tidak lolos di penerbit mayor karena tidak ‘mengikuti selera pasar’. Jika indie itu bebas, penerbutan indie itu sebagai sarananya. Kalau org berpikir karya yg terbit indie itu hanya dijual di tempat tertentue semisal online, jwbnnya tidak. Sebab banyak karya indie yg duterbutkan sebagai indie juga bs tembus ke toko buku besar.
sebenarnya agak gimana gitu ke pendapat org yg menerbitkan buku secara independent hanya dengan alsan “yang penting diterbitkan” atau “yang penting jd buku”. Padahal menurut sy indie bkn hanya sekadar media oelarian naskah ug yidak laku atau tidak sesuai dgn keinginan pasar, tp lebih kepada idealisme si.empunya karya.
–          Haqi – Grup KB bogor: menurut saya self publishing merupakan alternatif bagi para penulis untuk menerbitkan karyanya .. Meski banyak penulis yang merasa lebih prestise jika diterbitkan penerbit major .
 Jujur saya belum pernah menemukan buku-bukunya self publishing di toko buku offline semacam gramedia (mungkin hanya beberapa list penerbitan indie yang saya tahu seperti a, b, c) sehingga para pembaca kurang familiar dengan self publishing. Saya juga belum pernah menemukan buku yang diterbitkan indie penjualannya meledak dan menjadi buku fenomena layaknya laskar pelangi dan ayat2 cinta.
–          Dania – Grup KB Ciledug: sebenarnya self publishing yg sdg marak ini memang lg disukai. Bahkan saya sempet meliriknya dan mau coba. Tapi saya masih antusias utk bs coba ke penerbit mayor.
Tetapi sejatinya seorang penulis tetap harus bs memilih dgn baik. Gini pernah baca twit sseorang, yg bahas self.publishing ini. Dia beranggapan penulis harusnya gak repot utk mikirin soal pemasaran, layout dll. Bukan penulis yg keluarin uang tp penerbit. Penulis hrsnya dpt uang bkn keliarin uang. Dan aku setuju 🙂
–          Mamet Pepaya: Kalau saya pribadi kurang tertarik menerbitkan buku di penerbit indie. Namun sebenarnya ini baik, karena daripada kelamaan nunggu penerbit yg mau nglirik, ya mending terbitin aja. Tapi ya itu, kalau asal nerbitin doank, tanpa ada seorang editor di belakang kita, ya ibarat maju sidang skripsi tanpa pernah bimbingan. Skripsi aja butuh dosbing, maka nulis buku juga butuh editor.
–          Djamal – Grup KB Jakut: aku sendiri si belum tertarik untuk self publishing. Karna masih ingin menghasilkan karya yg baik. karna belajar dari kesalahan kenapa di tolak dll. hehe
–          Resla – KB: self publishing. Seperti kata kak tha tadi kekurangannya adalah ada pada kualitas naskah yang kita buat, karena tidak adanya editor (kita sendiri yg menjadi editornya), kalau sudah paham betul (meski sedikit) tentang pengeditan sih no problem. Nah kalau blm? Salah-salah kalau ada yg typo juga.
Tapi bukan berarti penerbit indie itu ‘kalah’ dibanding penerbir major. Indie bs dijadikan sarana untuk awal kita menerbitkan buku.  Jadi ya, nggak ada salahnya untuk mencoba self publishing. Mungkin lebih kerasa ‘perjuangannya’ krn semua dilakukan sendiri.
–          Putri – Grup KB (Medan): penerbit indie  bisa jadi solusi bagi penulis yg naskahnya mandet i meja redaksi penerbit mayor, tulisan blm lolos ke penerbit bukan berarti tulisan kita jelek, tapi penerbit yg blum nemu karya hebat, jadi motivasi buat diri sndiri, jalan menuju sukses kan gak cuma satu, self publish jga udah menerbitkan buku yg gak kalah bagus dr yg diterbitkan oleh penerbit major, ya karena smua andil ada dipenulis, cntohnya aja krn gak ada yg jd editor.
*** Iska Meta Furi – Grup KB JKT: @mamet sebenarnya tidak semua indie itu tdk berkualitas. Ada beberapa penerbit indie yg menyediakan jasa editor sprti penerbit major. Contohnya yg saya tahu: penerbit A.
@dhila Yaa…memang indie hadir di antaranya karena idealisme penulis yg tdak dapat tempat di dunia penerbitan.. Kalau kita simak, dahulu dee (dewi lestari) pun menerbitkan karya SUPERNOVAnya secara indie/print on demand.
–          Alan – KB Grup: saya percaya setiap orang berhak untuk menulis. sayangnya, tidak banyak penerbit major yg mau mengapresiasi setiap tulisan, terlebih dari penulis pemula. dan ketika penerbit major tidak bisa menjembatani semua bentuk tulisan;dengan berbagai kriteria yg dipegang penerbit major, maka lahirlah apa yg kita sebut self publishing. mengikuti perkembangan musik dan film, kini makin banyak penerbit dan buku indie. selain karena tidak terbelit standart ketat dan dan tidak melulu mementingkan keuntungan finansial seperti penerbit major, self publishing membuat penulis benar-benar menulis sesuatu yang menjadi passion nya tanpa perlu memikirkan selera pasar.
Tetapi, penulis harus bisa menjadi penulis yang bertanggung jawab, dan tak sekedar memenuhi kebanggaanya sendiri demi sebuah buku atas namanya. dan tidak menganggap self publishing sebagai batu lompatan saja ke penerbit major. well, pada dasarnya, setiap orang berhak menulis apapun yang ia inginkan menjadi buku. happy writing.
–           Maya – Klubbuku MLG: saya sendiri selama ini utk bacaan masih sering lebih memilih penerbit mayor. Bkn berarti gak percaya dg penerbit indie. Hny mungkin blm ketemu buku / novel yg pas.
–          Dhila – Grup KB: entah dimana sy pernah baca, di penerbit mayor kadang naskah kita dirombak abis abisan sm editor. Yg sebenarnya ingin kita sampaikan bisa jd diganti sm editor dan kita ga bs berbuat apa2. Nah, kenapa ada indie publish ya intinya ingin mempertahankan apa yg sebenarnya ingin disampaikan sm penulis.
Ingat kasus Ayat2 cinta yg booming. Pd saat itu pasti naskah bertema sperti itu lebih besar kesempatannya masuk mayor. Nah skrg? Mesti naskah gombal galau yg lebih besar kesemoatan masuk mayor.
Pertanyaannnya adalah, maukah kita jadi penulis musiman?
–          Putri – Grup KB (Medan): @dhila, gakmau. penulis itu membebaskan.
–          Mutia Jelita – Grup KB Jkt: Sebenarnya, dengan maraknya indie publisher, malah lebih menguntungkan penulis. Lbh byk pilihan utk menerbitkan bukunya dan tidak perlu merasa khawatir bukunya tidak bs diterbitkan. Karena mmg ada beberapa penerbit yg hanya mengkhususkan buku2 yg akan mereka terbitkan. Ada juga indie publisher yg PASTI menerbitkan buku dari genre apapun. Cthnya Penerbit A. Mereka menerima naskah apapun dgn jargon MUDAH, CEPAT, PASTI TERBIT dan GRATIS. Di bbrp indie publisher jg ada sarana bagi penulisnya utk membuat sendiri cover yg diinginkan. Jd lbh “gue bgt” mungkin. Tapi mmg dgn penerbit mayor, karya kita akan lbh mudah memasuki pasar. So, ada keuntungan dan kerugian msg2. Tinggal dikembalikan lg ke penulisnya. Apakah ingin cpt karyanya dikenal tetapi dgn wkt yg aga lama ( krn hrs lulus uji kelayakan) dan mgkn biaya yg tidak sedikit (sy kurng tahu mengenai hal ini) atau ingin menerbitkan dgn biaya yg murah (bahkan gratis) tetapi utk dikenal masyarakat luas aga susah (krn pemasarannya mgkn tidak segencar penerbit mayor)?
–          Dania – Grup KB Ciledug: masih ada bnyk penerbit major. Masih ada peluang. Saya sih tdk menyepelekan selfpublishing tp klo bs ttp usaha utk ke p.major. Yg online selfpublishing mnrt saya ya penerbit A itu krn tdk membuat penulis mengeluarkan uang. Walau ada juga karya penulis terkenal yg dulu by self publishing tp skrg bukunya di p.mayor. Jadi self publishing sah dan halal kok bagi penulis yg mau menerbitkan karyanya 🙂
–          Resla – KB: Wlw ada jug karya penulis terkenal yg dulu by self publishing tp skrg bukunya di p.mayor »» krn kebanyakan penulis menggunakan self publishing sebagai jembatan menuju p.major te..
–          Dhila – Grup KB: @dhilayaumil saya pernah membandingkan hasil karya nulisbuku yg pakai editor dengan yang tidak (langsung dr penulisnya) dan sungguh berbeda. Kalau yg pakai editor kan ttp ngeluarin duit.
–          Jamal – KB Grup jamjam: Saya sih setuju aja, makin banyak pilihan makin bagus. Untuk indonesia yg jumlah penduduknya 200 juta-an penerbit yg ada sepertinya masih kurang. Untuk perbandingan saja, di prancis penerbit disana biasa menolak 10 ribu tulisan /hari. Entah di indonesia, harusnya sih lebih banyak. Yang terpenting apa yang ditulis bisa bermanfaat bagi pembacanya. Sebagai langkah awal masuk dunia menulis, setiap penulis layak memperhitungkan self-publishing.
–          Ray Farah – KB: Self publishing adalah salah satu media atau jalan bagi para calon penulis yang masih ditakuti oleh penolakan dari para penerbit karena karyanya kurang masuk syarat. Hmmm skalian sharing aja yah, aku punya bbrp buku di penerbit A, entahlah, aku lebih pede saat menerbitkan tulisan2 itu, wadah yang meyakinkan kalau siapa pun bisa punya bukunya sendiri. Dari sistem royalti sangat transparan, 40% buat mreka: 60% buat kita.  Effortnya lebih besar, kita kayak ngebesarin anak sendiri, knapa? Karena sgala ecek ecek dari cover sampe daftar isi, konten kita sendiri, kalau yang modal ada jasa penyedia layanan itu sih, aku pribadi semuanya sendiri, sampai cover. Dan untuk promosinya harus gencar dan sekreatif mungkin, karena kita tidak di bawah penerbit major dan balik lagi, namanya self publishing,ya semuanya kita, ngga ada tuh live tweet dari penerbitnya ‘telah terbit novel Anila Tavisha judulnya ini. Grab it fast, sis!!’ Semuanya harus sendiri.
–          Mutia Jelita – Grup KB Jkt: Iya, dgn indie publishing jg membuat penulis2 lbh percaya diri dgn karyanya. Sehingga dpt memotivasi utk terus menulis dan menulis lagi agar karyanya bs dilirik penerbit mayor
*** Iska Meta Furi – Grup KB JKT: Yaa… Kecenderungan menjamurnya self publishing saat ini ialah karena idealisme yg tergadai di meja redaksi. Idealisme yg terbentur kemauan pasar. Nah,menurut kalian… Kira2.. Jika hal ini berlanjut terus, apakah di masa depan kita semua masih membutuhkan penerbit? Akankah penerbit-penerbit mayor tsb terpinggirkan oleh indie/self publishing?
–          Dhila – Grup KB: Kameta, menurut aku penerbit mayor skrg juga cerdas2. Setahu aku, beberapa penerbit major skrg punya yg selfpublish2 gitu kan?.tolong ralat kalau sy salah.buku dr penerbit indie suatu saat jg bs masuk mayor. Kemarin naskah yg terbit indie ditawari sama penerbit p tp dengan beberapa persyaratan.
–          Dania – Grup KB Ciledug: mnrtku ya tha, mgkn p.mayor akan mengeluarkan fasilitas self publishing. Contoh, Penerbit G. Udah ada selfpublishingnya
–          Fitriyah – Grup KB Bekasi: Iya, Penerbit z yang aku tau udah ada self publishingnya.. Dan aku belum pernah baca sama sekali buku yang hasil self publishing. Self publishing itu bisa jadi jembatan untuk bisa sampai ke penerbit mayor.
***Iska Meta Furi – Grup KB JKT: Hmm…jd kbanyakan masih beranggapan self publishing sbg batu loncatan aja yah??
–          Dhila – Grup KB: Aku enggak kamet. Soalnya mayor sama.indie jelas beda.
–          Dania – Grup KB Ciledug: Aku engga meta, Masih melirik p.major
–          Gilang Pradana – Grup KB Bks: tidak. buat saya DIY atau do it with your friends masih masuk akal, ia adalah etika sekaligus etos yg seharusnya aplikatif. jika orientasinya adalah kemakmuran dan idealisme penulis, bisa ambil contoh penerbit AK-Press dari amerika serikat. mereka dapat menjadi besar karena dengan caranya sendiri (minimal dikalangan muda-mudi sana) counter kultur dari etos kepenulisan yg sdh ada. jadi bagi saya self publishing itu seharusnya menjadi etika dan etos yang aplikatif. karena pasar bisa diciptakan.  ohya, mungkin saya memang pengagum mereka yang berani keluar dari kungkungan budaya yang sudahada senantiasa  memberikan angin sega, wacana baru, pemikiran baru, tanpa harus terkesan “saya out of the box”, “saya berbeda, dan saya keren ayo ikuti saya.” kayak yg dibilang diatas setiap penulis ga bisa lepas dari tanggung jawab sosial. seminimal apapun itu.
***Iska Meta Furi – Grup KB JKT: Terus.. Kalian masih banyak yg berharap sama penerbit2 mayor yaah?? Tak adakah yg tertarik/yakin utk self publishing karya2nya?? Kenapa gitu? *penasaran*
–          Dania – Grup KB Ciledug: Bkn karena apa2 ya, masih mau usaha. Masih ada jalan menuju Roma. Dan lagipula, hasil itu bergantung pd usaha dan proses 🙂 Karena sbg penulis ya tha, dia gak hrs pusing mikirin editing layout dan keluarin uang. Penerbitlah yg urus itu. Hehee
–          Mamet Pepaya:  *mikir* Kalau dulu Harry Potter pake self publishing bakal laku keras gag ya¿ JK Rowling rela ditolak puluhan kali oleh p. mayor. Pantang menyerah. Ehh.. tapi di p. indie juga sama2 kudu pantang nyerah dink ya..
–          Maya – Klubbuku MLG: @non_maya klo menurut aq sebenarnya yg pada pake self publishing maunya jga trs self publushing akn tetapi ktk karyanya booming dan jdi bestseller mk penerbit mayor lah yg dtg menawarkan diri klo sudah begitu siapa sih yg nolak di pinang penerbit gede gitu looh
–          Resla – KB: Major atau indie. Biar yang punya karya yang milih. Intinya penulis tahu penerbit mana yang lebih pantas untuk karyanya..
–          Jamal – KB Grup @jamjam: Yang menyedihkan dari buku self-publishing adalah apabila gagasannya ‘dicuri’ oleh buku yg diterbitkan penerbit mayor yg sistem marketing dan distribusinya bagus. Ada juga yang gagasannya walau bagus tapi tidak pernah terkenal dan hanya mengisi rak perpustakaan.
–          Putri – Grup KB (Medan): major atau indie, hak memilih ada ditangan Penulis
–          Dhila – Grup KB: Banyak kasus seperti itu kakjam. Temenku ada yg mengalami.
***Iska Meta Furi – Grup KB JKT: Wah iyaa tuuh mas jamal.. Adakah kasus yg seperti itu? penulis siapa??
–           Jamal – KB Grup jamjam: Ada, tapi contoh yg saya tau bukan di indonesia.
***Iska Meta Furi – Grup KB JKT: Hmm…bukannya ada self indie yg mnyediakan jasa layouter,cover sgala macam.. Cuma tgl trima jadi.. Bayar sndiri (lbih mahal memang) hehe
–          Dhila – Grup KB: Ada kameta.  Tp memang bayarannya nambah.
***Iska Meta Furi – Grup KB JKT: Di sini yg pernah self publishing dhila sma ray aja yaa?? Ceritakan doong kesan-pesannyaa.
–          Dhila – Grup KB: Kalau aku ya, kebetulan kumcer kamet. Yg edit aksara ya aku. Yg layout ya salah satu kontributornya. Dia emang sering jd layouter buat penerbit indie. Buat biaya seperti itu ya ngirit. Tp ttp aja jutaan duit keluar buat yg lain2nya
–          Ray Farah – KB: @meta ngga ta, ngga jadi batu loncatan. Sudah diterbitkan aja, dan di covernya ada namaku aja aku dah seneng, tinggal nunggu input dari yang beli, apa yang harus ditingkatkan dan kurang. Setidaknya seumur hidupku aku punya bukuku sendiri, heuheuheu
***Fitriyah – Grup KB Bekasi: aku masih kurang paham, kalo self publishing itu kita bayar ya? Yang aku tau nulisbuku gratis. Tapi kalo misalkan mau di edit naskah nya oleh editor profesionnal gt. Kita bayar editornya itu?
–          Iska Meta Furi – Grup KB JKT: Iyaa fitriaa..bayaarr…
–          Dania – Grup KB Ciledug: Iya fitria kita bayar klo pake editor professional
–          Dhila – Grup KB: Bayarrr fitriiii
***Iska Meta Furi – Grup KB JKT: Hmm…boleh tahu gak.. Di mata kalian,dunia penerbitan (penerbit mayor) kita ini apa sih kurangnya?
–          Dania – Grup KB Ciledug: @daniasunahine Kurang membuka mata hati bagi penulis baru yg pny ide mgkn dahsyat tha 🙂
–          Dhila – Grup KB: Kurangnya ya, masih terpaku sama selera pasar yg mendominasi. Masih sedikit yg berani.keluar dr mainstream. Dhila – Grup KB: Tp yg aku suka dengan penerbit mayor sekelas penerbit g atau g ya mereka enggak tanggung2 bayar editor mahal buat edit. Yahhh meskipun maaihbada yg egois ngerombak abesss naskah org.
–          Alan – KB Grup: penerbit major masih banyak yg menerbitkan buku demi keuntungan semata
–          Mutia Jelita – Grup KB Jkt: msh melihat selera pasar, jarang yg mau nekad out of the box
***iyut_sf: Wah, seru banget. Menerbitkan buku baik di penerbit major ataupun di penerbit indie, tidaklah berguna jika kita sebagai penulis tidak mempunyai jiwa writerpreneurship. Terlepas dari idealisme yang seringkali dikekang oleh ‘kemauan’ si penerbit major.
Banyak penerbit major saat ini menggunakan judul ‘best seller’ yang dikhianati. Dalam arti ada unsur bisnis didalamnya. Jika buku yg kita buat mau ditaruh di rak best seller sebuah toko buku ‘major’ ada aturan mainnya. Yaitu dengan potongan up to 70% dari harga buku tsb.
Bahkan penulis yg idealis kayak d aja pernah kan ngikut selera pasar dgn nerbitin novel p yg nyenggol2 tema yg lg booming <<– contoh=”” di=”” oleh=”” penerbit.=”” penulis=”” salah=”” satu=”” sempat=”” setir=”” span=”” yang=””>
–          Nia – #klubbuku: aku sempet ilang respect dgn salah satu self publisher.  Awalnya aku respect lho btw, sangat respect, krn mll dia akan banyak penulis2 yg muncul dan siapa tayu dr sekian byk penulis itu akan muncul penulis kece nan berbakat serta tulisan kece nan aduhai.
Sederhana alesanku. Bukan sekedar bahwa self publisher ga ada editor dan penulis rempong urus percetakan. Tp tanggungjawab moral dr pihak publisher juga. Bagiku, penerbit ini kehilangan “wibawa” krn jd lost control. Waktu itu sih, lewat tweets, dia memunculkan promosi buku: Si A yg anak mahasiswa Psikologi tapi punya cita2 jd Psikiater. Booo~ ini kan 2 jurusan yg beda :))
Bagiku, self publisher itu oke. Selama masih punya kontrol thd konten bacaan yg akan dipublikasikan dan diterbitkan mll publisher mereka. Gimanapun, ada beban moral utk mencerdaskan anak bangsa. Merdekah!!
–          Dhani – Kb Mks: menurut aku sih self publishing kek artis2 instan gitu.. emang bisa langsung keluar bukunya, tapi gag beredar lancar. Aku sering ikut proyek nulis yg diiming2I cetak di nulis buku. tapi yah gitu selesai cetak aja, gag ada kelanjutannya. ya mungkin dari segi wira usha juga yah. kalau penulis ternama trus pilih SP toh nama mereka sudah menjual jadi gampang.
–          iyut_sf: menurut aku sih self publishing kek artis2 instan gitu.. emang bisa langsung keluar bukunya, tapi gag beredar lancar…. <<– all=”” banyak=”” bedakan=”” buku=”” calon=”” cetak=”” dan=”” dear=”” dengan=”” di=”” gak=”” hebat=”” indie=”” ini.=”” jarang=”” jasa=”” major=”” minim.=”” nya=”” o:p=”” para=”” penerbit=”” penerbitan=”” penulis=”” publishing.=”” pun=”” punya=”” self=”” skill=”” tidak=”” writerpreneur=”” yang=””>
–          Iska Meta Furi – Grup KB JKT: Yupp.. Benar sekali.. Self publishing pun memiliki aturan sama dgn penerbit mayor. Hanya saja pengelolaannya yg berbedam
–          Nia – #klubbuku: Kl ttg blok2an di tobuk gede, hmm, itu sih rahasia umum. Hihi. Bbrp temen penulis ngalamin lgsg dan curhat juga ttg ini. Penerbit major+besar, bisa bayar sejumlah tertentu utk bisa melanggengkan posisi buku terbitan mereka di tobuk itu. Termasuk ttg yg iyut bilang, jangan mudah percaya dgn “best seller” yg terpampang di buku. Yakali bisa dibilang “best seller” pdhl baru nongol dan cetakan pertama :)))
–           Ryan Hasanin – Grup KB PLMBG: @ryan telat sorry sinyal. SP tuh enak. Tp susah banget buat masarin buku kita. Pernah cb sih SP tapi beberapa kendala yg jd masalah pertama, SP itu POD jd nungguin buku jadi lama. Blm jg soal distribusi ke calon pembeli yg ribet. Stor sana stor sini. Dan menurut gue sih SP itu buruk bagi karya kita sendiri, jd penulis kok instans. Mie dong yg instan. Trims. Makan dulu.
–          Dhila – Grup KB: Aku udah baca 4 judul buku dengan 4 penerbit indie berbeda. Dan mmmm. Tak bisa dipungkiri, tiap saat selera pasar berubah. So, kalau masih mau menjadi penulis yg ikut selera pasar ya, siap2 saja digeser sama selera pasar yg baru
–          Iska Meta Furi – Grup KB JKT: Utk ryan…sbnrnya agak kurang setuju dibilang SP itu utk yg instan. Krn byk pnulis2 ternama,sprti Gol A Gong & Sapardi Djoko Damono yg akhirnya lebih memilih SP. Bukan krna mreka inging instan terkenal,tapi sisi idealisme mereka yang tak masuk ke dalam lingkup pnerbit
–          Ray Farah – KB: @ka dhani, sama kayak penyanyi yang lewatin ajang ajang dulu, sukses secara instan. Yang mau kerja keras ya setelah kontrak abis tetep cari job sana sini karena ini passionnya, yang emang cuma numpang tenar ya ngga survive, kontrak abis tenggelam. Itu menurut aku analoginya terhadap penulis SP, heuheu
–          Haviaty Octora – Grup KB BDG: Aku kurang tau dunia SP. Tapi beberapa buku penulis SP yang aku baca sejauh ini bagus-bagus kok. Beberapa tulisannya memang mungkin ga sesuai dengan selera pasar yang lagi in.. Mereka punya komunitas tersendiri sehingga pemasaran buku mereka bisa terbantu. Aku yang ada di luar komunitas aja akhirnya tertarik untuk beli. Ada juga penulis yang melempar dulu tulisannya via blog, trus mereka menerbittkannya sesuai permintaan kan?
–          Dhila – Grup KB: Kalau buku SP emang banyak yg bagus. Bermasalahnya ya di layout sm edit.
–          Mutia Jelita – Grup KB Jkt: Menurut sy sih, mau SP ato PM, yg penting kualitas tulisannya. Klo bagus, walaupun SP, dr mulut ke mulut, tweet ke tweet,  aja bs jadi laris.
–           Ryan Hasanin – Grup KB PLMBG: RT Miu Menurut sy sih, mau SP ato PM, yg penting kualitas tulisannya. Klo bagus, walaupun SP, dr mulut ke mulut, tweet ke tweet,  aja bs jadi laris.
***Djamal – Grup KB Jakut: Untuk masalah yang mana yang akan tergusur. Saya pernah baca tweet2 singkat (Founder  Salah satu penerbit besar)  kira-kira seperti ini: 1.  Penerbit buku bangkrut itu biasa, sama biasanya dengan munculnya penerbit baru. 2. Penerbit buku bangkrut itu biasa. Itulah esensi sebuah usaha. Yang tidak biasa itu jika sebuah penerbit  bertahan dalam kurun waktu lama. Sedangkan menurut  distributor grup yg sama. Tumbuhnya penerbit tidak di iringin dengan tumbuhnya toko buku. .
menurut teman-teman gimana?
–           Iska Meta Furi – Grup KB JKT: Iyaa kira2 kecenderungannya nanti gmn. Apakah PM akan tgusur oleh SP ataukah SP akan mati di tengah jalan krn PM
–          Dania – Grup KB Ciledug: Mnrtku SP akan ttp nerjangkit. Dan PM jg pd ciptain si SP itu. Tp itu jg tergantung garis jlnnya SP dan PM.
–          Mutia Jelita – Grup KB Jkt: Menurt sy, dua2nya akan bertahan, krn msh byk penulis yg idealis.
–          Ryan Hasanin – Grup KB PLMBG: Bagusnya sih beriringan, toh mereka gk saling merugikan kan? Dije + meta
–          Dhila – Grup KB: Kan bisa aja seiring sejalan. Penerbit
–          Haviaty Octora – Grup KB BDG: Penerbitan major cenderung menerbitkan buku yang mengikuti selera pasar, secara pasar mereka lebih kuat. SP semakin banyak dilirik penulis.. Jadi punya peluang besar untuk bisa bertahan juga. >> temen aku punya SP nawarin terus buat nerbitin buku di dia >> penjelasan jumlah modal dan peluang untungnya bikin pusiiing, sementara strategi pemasaran diserahin ke kita..
–          Ryan Hasanin – Grup KB PLMBG: itu kelemahan SP, bkn hanya pemasram soal distribusi juga kok
***Iska Meta Furi – Grup KB JKT: Sudah dulu ya,aku tutup dari aku..kalau mau lanjut silakan… Jadi kesimpulannya,
PM & SP memiliki kelebihan & kekurangan masing2. Pun minat/segmen pasar yg berbeda. Namun untuk kalian para penulis pemula yang merasa sulit menembus PM namun yakin karyanya bagus/layak diterbitkan, maka SP adalah salah satu solusinya. Tapi pada dasarnya…semua tergantung motif kalian menulis. Jadii….silakan terbitkan bukumu….di PM/SP… Apa sajalah 🙂
***yayan – Mediakita: Kenapa juga ada persepsi bahwa naskah yang ditolak itu adalah naskah buruk? Atau, kadang ada pikiran juga bahwa naskah yang ditolak itu naskah idealis. kenapa begitu ya? Kenapa juga masih ada yang mengira bahwa self publishing itu adalah pekerjaan menggandakan naskah?
Aku pernah nulis sedikit soal self publishing. Bagi yang berminat, silakan mampir di http://yayan.com/tulisan-bebas/free-writing/tentang-menulis/self-publishing-bukan-melulu-menggandakan-naskah
–          Dhila – Grup KB: Naskah yg ditolak bisa jadi karena sudah ada yg seperti itu atau karena penerbitnya sedang tidak.butuh naskah yg ‘beda’.Kumcer jg skrg sdh banyak PM yg mau nerbitin. Kalau yg aku liat yg besar-besar mulai nerbitin kumcer tp dr penulis yg sdh punya nama, plotpoint justru menawarkan untuk penulis baru
–          iyut_sf: Ditolak karena masing2 penerbit punya skala prioritas mana yang senapas sama penerbitnya mana yang tidak. Ada juga bukunya Bang JJ Rizal ditolak Gramedia karena takut untuk menerbitkannya.
–           yayan – Mediakita: Menurut pengalamanku sih, tidak semua naskah yang ditolak penerbit itu naskah buruk. Ada naskah yang bagus tetap ditolak oleh poenerbit. Kenapa? Karena tidak sesuai dengan jenis naskah yang diterbitkan oleh enerbit itu. Misal, kalau saya penerbit buku komputer, saya mungkin menolak naskah novel roman sebagai apapun. Juga, tidak semua naskah yang ditolak penerbit mainstream itu naskah idealis. Pertanyaannya, apa itu naskah idealis?
Hampir di setiap kelas Creative Writing yang pernah saya pegang selalu ada pernyataan dari pesertanya, “Mas, kita harus menjadi penulis idealis kan?” Saya bilang: “Ya. Tapi, apa itu penulis idealis?” Lalu saya angkat buku berjudul “Teknik Sablon Kaos”. Lalu saya tanya ke peserta, “Apakah buku ini buku idealis atau bukan?”
Biasanya, para peserta di kelas itu rada bingung menjawabnya. Buat saya buku “Teknik Sablon Kaos” itu bisa jadi adalah buku idealis. terutama jika ia terbit dan beredar di tengah upaya untuk menumbuhkan semangat kewiraswastaan. Tentu saja buku Teknik Sablon itu jadi idealis kalau ditulis dengan tapat pula.
Marilah kita akui, kadang kita sembarangan memberi cap idealis kepada banyak hal. Asal di luar mainstream lalu dicap idealis. Asal beda, dicap idealis. Asal susah dimengerti, dicap idealis. Akui saja kita sering bersikap begitu. Saya pengagum kaum idealis lho. Tapi yuk kita lebih jernih memahami apa yang idealis itu.
–           Ray Farah – KB: Iyah benar, selama kita mengerti isi bukunya, kita anggap sesuai dengan genre kita, sedangkan saat isinya beda dan ngga sesuai dengan ekspektasi, kita enteng bilang idealis, hehe..
–          yayan – Mediakita: Balik ke tema diskusi kita ya: self publishing. Menurut saya, ini sangat menarik. Self publishing itu menarik bukan karena ia bisa menjadi tempat pelarian dari penerbit mayor.
–          iyut_sf: Oke untuk idealisme aku setuju masyan. Tapi, mengapa cenderung mengesampingkan atau mendiskreditkan buku2 yg diterbitkan dr penerbit indie.
–          yayan – Mediakita: Iyut: mendeskriditkan itu apa ya maksudnya? Setahu saya, saat ini penerbit mayor kebanyakan mendukung self publisher tuh. Kenapa? Karena mereka paham betul bahwa tidak semua naskah yang ditolak oleh mereka adalah naskah yang buruk.
–          iyut_sf: Ada kesan bahwa ‘ Self publishing itu ada karena ia bisa menjadi tempat pelarian dari penerbit mayor.’ itu. Yang notabene masih meng-elu2kan buku terbitan penerbit raksasa. Oke saat ini memang sudah banyak yang akhirnya mengakui
–          yayan – Mediakita: Iyut: jangan salahkan kesan itu. Kesan itu muncul untuk buku-buku yang diterbitkan dengan pendekatan “menggandakan naskah”. Self publishing yang sejati adalah menjadi penerbit beneran -bukan jadi tukang fotokopi. Apa itu menjadi penerbit beneran?
Menjadi penerbit beneran berarti: menghormati pembaca yang akan disasar. Karyanya harus bagus, harganya harus sesuai dengan yang disasar, harus tersedia di tempat-tempat mereka yang disasar. Karya AS Laksana adalah contoh karaya-larya self publishing yang bagus. Sastrawan ini berhasil menjual banyak buku dan ebooknya dengan self publishing. Kok saya tahu? Ya tahulah. Wong saya temennya.
–          Irvan – KB: Penerbit pasti punya alasan kenapa tulisan di tolak, Yang terpikirkan olehku, Coba penulis tanya ke penerbit kenapa di tolak, pasti dapat saran, atau mendapat rujukan ke penerbit lain. Dan menerbitkan karya sendiri dengan menyaring banyak saran dari penerbit yang menolaknya.
***Dhila – Grup KB: Tapi pandangan masyarakat kan juga perlu diubah soal karya yg diterbitkan secara SP
***iyut_sf: oke setuju. balik ke topik. Self publishing.  sebagai penulis nih mas, apa yang mesti kita siapkan jika ingin mengambil jalur self publishing? Walaupun sempet intip blog nya masyan, bolehlah di share disini.
–          yayan – Mediakita: Dhila: sebagai penulis, sebaiknya kita tidak merengek kepada masyarakat agar mengubah persepsi. Tunjukan saja kepada masyarakat bahwa kita menulis dengan hebat dan karya kita bagus, maka masyarakat akan manut sampeyan. Percaya deh
Iyut: sebagai penulis, kadang kita berlaku aneh. Menulis itu kan buat dibaca oleh orang lain kan ya, tapi kadang kita mengabikan para pembaca. Saran saya yang pertama buat yang mau self publishing: dengarkan pem,bacamu.
Dhila: tak pernah ada upaya yang gampang untuk menjadi hebat tapi kalau orang lain bisa, kenapa kita nggak?
–          Dhila – Grup KB: Menurut aku mau SP atau PM yang terpenting dalam sebuah karya apakah ada manfaat yang bs diambil oleh pembaca. Tulisan kan bs membawa perubahan.
***iyut_sf: Masyan, bagaimana dengan selera buku bagus ditentukan dengan buku2 yang saat ini banyak yg bilang ‘buku-buku receh’ yang malah jadi laku dan best seller. Gimana maaaasss?? Mau dibawa kemana ini masyarakat kita kalau buku2nya tentang jomblo galau, tips sms buat gebetan, aaaaaakkkkk
–          yayan – Mediakita: Iyut: kenapa melas begitu? Tidak pernah ada kewajiban untuk seragam. Tak pernah ada larangan untuk menulis hebat. Jadi, apa maslahanya ya?
Ada penerbit mau menerbitkan yang galau-galau, ya silakan saja. Ada penerbit yang mau berkhutbah, ya monggo. Ada penerbit yang mau menyajikan cara membuat sayur terenak seCianjur, ya boleh kan? Ada iyut yang mau menerbitkan antologi cinta, ya baik-baik saja kan ?
–          Gilang Pradana – Grup KB Bks: manfaat sepertinya akan selalu ada. karena emang tiap2 pembaca kan punya sudut pandang masing2 juga. setuju kalo tulisan itu bisa membawa perubahan, saya turut merasakannya karena sejumlah tulisan. :)))
–          Irvan – KB: Akuu juga merasakan peeubahan pada diriku karena tulisan.
–          Dhila – Grup KB: Sekarang gak mesti demo turun ke jalan. Menulis pun bisa jadi membawa perubahan.
–          yayan – Mediakita: Dan, sekali lagi, self publishing adalah salah satu jalan untuk memberi tema yang beragam di dunia perbukuan. Mari ber-self publishing dengan pendekatan sebagai penerbit -bukan sebagai tukang fotokopi .
–          Dhila – Grup KB: Masalahnya self publishing sekarang banyak yg menyalahi hakekat indie itu sendiri
–          Nia – #klubbuku: Aku ga tahan buat nyimak krn aku gemes parah juga dgn self publisher as “tukang ganda naskah” :)))). PM juga ada yg setipe dgn “tukang ganda naskah” dan ini salah 1 alasan utama knp aku sempet brenti baca buku lokal di tahun 2008-2012. Krn gabung KB aja aku beralih lagi lirik buku lokal lagi.
Di saat balik inilah, aku kenal dgn konsep self publishing. Konsep yang keren. Makanya sayang kalo cuma dijadikan “pelarian”. Dan sayang juga kalo sebagai penulis pemula menganggap self publishing cuma biar “yang penting buku gw terbit”. Selesai. Kalo cuma gini mah tinggal lari ke tukang fotokopi yg bagus, dan silakan cetak buku di sana. Kece kok. Aku pernah cetak ebook textbook dan jadinya mirip buku asli. Bahkan disangka buku asli :)))
Menjadi penerbit beneran berarti: menghormati pembaca yang akan disasar >> bagiku, yaa termasuk dgn membuat karya yg dgn “riset”. At least biar ga malu2in deh iih. Jgn sampe kaya yg aku jabarkan di cth jauh di atas convo kita skrg. Bagiku itu ga menghormati pembaca. Ada “pembodohan”, baik bagi si penulis atau bagi calon pembaca.  Psikolog vs Psikiater itu di masy masih suka salah2 kaprah. Kami, sbg bagian dr 2profesi ini pun terus berusaha utk kasih edukasi. Jd marah yes kl ada penulis yg ngaco terkait ini. Huehehe.
Karyanya harus bagus, harganya harus sesuai dengan yang disasar, harus tersedia di tempat-tempat mereka yang disasar >>> SEPAKAT!!! Respect luar biasa utk penerbit mayor dan self publisher yg seperti ini!! Thumbs up!!
–          Ryan Hasanin – Grup KB PLMBG: Setidaknya self-publishing bkn hanya sekedar pesaing major. Tapi justru pelengkap major yang menjadi bacaan kita lbh berwarna dgn beberapa buku yg gk diterbitin sm pihak major. Utk urusan bagus gaknya. Ya terserah pembaca.
–          Gilang Pradana – Grup KB Bks: menurut sy sih hakekat indie itu pertama-tama harus dimaknai sebagai kemandirian. bisa kemandirian individu, kolektif, atau pun komunitas.
–          yayan – Mediakita: Ini ngantuknya udah datang beneran. Tadi sebetulnya udah mau tidur, eh tergoda nengok KBI. Malah jadi keterusan. Kapan-kapan kita ngobrol lagi, ya. Selamat malam semua.
Ternyata membicarakan buku begitu menyenagkan ya. Diskusi yang biasa berlangsung satu jam kini sampai tengah malam. Begitu kira-kira diskusi tentang Self Publishing di grup Klub Buku Indonesia. Sampai ketemu di sharing selanjutnya. 😀