Sapa

Halo!

Hahaha… Iyaa iyaa… (apa sih, Yut?! Ngguyuuu ngguyuuuuu….)

been a looooooong time ago sejak saya menulis tulisan terakhir saya di sini. Haduuuh… malu sama diri saya yang gemar nulis-nulis di sini dan sempat saya tinggalkan beberapa waktu lamanya. Maafiiiiin…

Banyak hal yang sudah terjadi pastinya selama beberapa waktu kemarin tentunya. Saking banyaknya, saya hampir enggan menuliskan apa yang mungkin bisa saya tulis dan bagi dengan kamu di sini. Ini berasa kayak ketemu temen lama dan sempet punya salah tapi belum sempat untuk minta maaf… XD

Mulai dari mana?

Ya. Mulai dari mana ya? Adalah pertanyaan pertama ketika saya berpikir dan berencana untuk menulis kembali di sini. Mulai dari hobi yang akhir-akhir ini saya tekuni? Atau mulai dari pekerjaan yang jadi salah satu alasan (atau kita anggap pembenaran deh…) untuk saya sok sibuk hingga akhirnya gak sempat lagi buat sekedar nulis di sini.

Hmmm…

Mungkin di tulisan setelah ini, kita bisa tahu jawaban dari mana saya memulai cerita saya selanjutnya. Kamu gak sabar? Apalagi saya! Seperti menantang diri untuk pembuktian kecil. Menepati janji kepada diri sendiri untuk menulis lagi. Minimal menulis di tempat sendiri ya (?).

Bismillah… Hihi.

Iklan

Siklus

Kemarilah,
Istirahatkan tubuhmu pada riuh rinduku.
Bersandarlah,
Pada dada yang senantiasa menopang peluhmu.
Berceritalah,
Pada jiwa yang setia mendengarkan.
Tertawalah,
Biarkan bebanmu kusimpan rapat di pundak ini.
Menangislah,
Biarkan peluk ini menampung semua lukamu.
Pergilah,
Jika kelak jemari tak kuasa lagi untuk saling mengenggam.

Kalau kelak…

Mengapa tak kau biarkan ia berdiri tegap, kalau nantinya akan kau tinggalkan ia terkulai lemas.
Mengapa tak biarkan saja ia berharap pada asa, kalau kelak kau biarkan harapnya memudar.
Mengapa kau rela bermanja waktu dengannya, kalau kelak waktu pun tak akan bisa menguatkannya.
Mengapa kau rela mengukir citanya, kalau kelak cita itu menjadi terlalu muluk digapai.
Mengapa kita rela bermandi rasa, kalau kelak harus tak berperasa.

Di sebelah kirimu…

Tuan, tahukah kamu ada hati yang merindu di sebelah kirimu.
Hati yang jatuh cinta ketika melihatmu tertidur lelap.

Tuan, aku sering bersembunyi di sebelah kirimu menyimpan semu kemerahan ketika melihat kerling matamu.

Tuan, aku seringkali melukis tentang mu. Kulukis dengan jemari dan menyesapkan rindu-rindu dalam warnanya.

Aku seringkali berkunjung ke kepalamu.
Berputar-putar mengulum permen isi coklat. Berlarian di pelupuk matamu.
Dan ketika lelah, aku mencari lenganmu untuk kupinjam hangatnya. Aku suka.

Aku suka sekali berseluncur dari lenganmu menuju jemarimu. Kubiarkan diri tenggelam di sela-selanya.

Tuan, sesekali tengoklah ke arah kirimu.

Padanya, ada rindu diam-diam di matanya.

Diam Menyibukkan.

Aku tak sekedar diam, melainkan terlalu sibuk merajut rindu untuk kusematkan nanti ketika bertemu.
Aku tak sekedar diam, melainkan terlalu sibuk mengumpulkan cerita yang didalamnya selalu ada kamu.
Aku tak sekedar diam, melainkan terlalu sibuk mengingat hal-hal lucu tentangmu yang menemani hari-hari sepiku.
Aku tak sekedar diam, melainkan terlalu sibuk merapalkan setiap mantra harapan kita.
Aku bukan hanya diam, melainkan terlalu sibuk memikirkan jalan mana lagi yang akan kita lalui demi menghabiskan malam untuk melepas rindu.

Aku.
Diantara semua kerinduanku.

Sepaket Kotak Kamu

Suatu saat nanti, akan datang padamu sepaket kotak kata yang berisi semua rapalan-rapalan tentang mu.

Suatu hari nanti, akan datang padamu sepaket kotak gambar yang tak lagi bisa diungkapkan kata.

Suatu hari nanti, akan kujahit luka-luka kecil bak lubang di baju yang kemudian menjadikannya indah kembali.

Sebab luka itu indah. Selagi itu tentangmu. Karenamu. Apalah arti luka yang perihnya terasa sangat manis.

Sejauh aku masih disini, tak ragu ku berdiri. Dengan mata yang panjang. Sesekali menengok jam, menanti ritual kita.
Pada waktunya, sepaket kotak ini akan datang kepadamu.

Bersiaplah kasih. Semoga tak ada penyesalan mengiringi.

 

Didalam kotak-kotak berisi semua tentangmu.