Bagaimana perasaanmu saat ini?

Bagaimana perasaanmu saat ini?

setelah kita tersadar,

ada hangat yang kembali mengintip diam-diam

Bagaimana perasaanmu saat ini?

ketika harapan sudah kembali pulang

dari perjalanan tak berharapnya

Bagaimana perasaanmu saat ini?

saat kita mencoba merangkak perlahan

dari kegagalan terindah kita

 

kamu mengajakku untuk mendekati hangat yang mengintip itu

aku mengangguk dan mengikuti punggungmu yang berjalan mendekatinya

tak kuasa kita memeluknya–hangat yang kembali mengintip diam-diam itu

dalam-dalam.

“nyaman sekali…”, katanya pelan sambil berbisik di telingaku

aku mengencangkan pelukanku, begitupun kamu

“bagaimana perasaanmu saat ini?”, tanyaku padamu——

kemudian hangat pun meleburkan diri dalam pelukan kita.

 

Blumchen Coffee, 19 November 2014

Iklan

Siklus

Kemarilah,
Istirahatkan tubuhmu pada riuh rinduku.
Bersandarlah,
Pada dada yang senantiasa menopang peluhmu.
Berceritalah,
Pada jiwa yang setia mendengarkan.
Tertawalah,
Biarkan bebanmu kusimpan rapat di pundak ini.
Menangislah,
Biarkan peluk ini menampung semua lukamu.
Pergilah,
Jika kelak jemari tak kuasa lagi untuk saling mengenggam.

Jika Bukan Kamu…

Entah apa jadinya raga
Membabi buta pada hawa nafsu
Efek kehidupan remaja beranjak dewasa

Entah apa jadinya kata
Yang kusimpan hanya dalam diam
Membisu, beku bak fosil yang ribuan tahun tertanam

Entah apa jadinya rasa
Yang sesukanya berlari kesana kesini
Tak pernah tahu arah pulang
Kidung pembaringannya…

Entah apa jadinya semangat
Yang tersesat pada jalan buntu
Pada pemikiran-pemikiran dangkal tetua

Entah apa jadinya,
Jika yang aku temui kala itu bukan kamu…

Datang dan bakar kepalaku!

Biar kunyalakan bara ini agar jenuh mengabu.
Biar aku bungkam jenuh ini hingga tak lagi mengganggu waktu.
Biar kupaksa jenuh ini lenyap dari otakku.
Biar ku tanam dalam-dalam jenuh ini hingga tak lagi tumbuh di sepi hariku.
Biar ku hanyutkan jenuh ini hingga mengalir semua sampai ke hulu dan mendasar di lautan dalam.
Biar ku beri kau segala jenuh yang memekik di setiap ruang kepalaku.
Datanglah, dan bakar kepalaku!