Dibelakangi Jingga, Diterkam Malam.

Aku sudah menyiapkan diri untuk seketika kau ajak aku singgah kesana,

sebuah negeri biru yang kau ceritakan seringkali menjelang habis senja.

Katamu, kau akan bawaku kesana menyeberangi batas hitamku.

Katamu aku bisa bebas disana, bukan disini

yang hanya bisa melihat senja dari balik redup bayangan jingga.

Katamu kau pernah sedih melihatku ditelan kelam diam-diam.

Diterkam pekat erat-erat.

Katamu, aku harus menuju biru.

Negeri yang kau ceritakan itu ketika menjelang habis senja.

Entah mengapa, hatiku ragu seketika,

 

“Sepertinya ini sudah takdirku untuk tetap disini, meski hanya bisa melihat senja dari balik redup yang dibelakangi jingga.”, Kataku yang kemudian dipeluk malam pelan-pelan.

 

 

Iklan

Sepaket Kotak Kamu

Suatu saat nanti, akan datang padamu sepaket kotak kata yang berisi semua rapalan-rapalan tentang mu.

Suatu hari nanti, akan datang padamu sepaket kotak gambar yang tak lagi bisa diungkapkan kata.

Suatu hari nanti, akan kujahit luka-luka kecil bak lubang di baju yang kemudian menjadikannya indah kembali.

Sebab luka itu indah. Selagi itu tentangmu. Karenamu. Apalah arti luka yang perihnya terasa sangat manis.

Sejauh aku masih disini, tak ragu ku berdiri. Dengan mata yang panjang. Sesekali menengok jam, menanti ritual kita.
Pada waktunya, sepaket kotak ini akan datang kepadamu.

Bersiaplah kasih. Semoga tak ada penyesalan mengiringi.

 

Didalam kotak-kotak berisi semua tentangmu.

Putus Segan, Sakit Hati pun Tak Mau

“Jadi, cuma itu caranya?”

“Iyalah, biar tahu rasa!”

“Nanti kalau dia malah gak respon gimana? Gagal dong…?!”
Angie semakin bingung.

“Dengan gitu, lo akan tahu segimana berartinya lo buat dia!”, lanjut Sarah meyakinkan.

Angie tak mau salah ambil tindakan. Berbagai tindakan untuk menggertak kekasih nya itu tidak pernah membuahkan hasil maksimal. Ia pernah berencana untuk pura-pura hamil. Dan akhirnya gagal, karena hal ini tak akan mungkin.

“Bagaimana kalau lo pura-pura tobat?!”, celetuk Sarah berapi-api.

“Tobat?”

Selintas dibenak Angie ini pertanda baik. Dengan begitu, Audrey akan merengek-rengek bahkan berlutut memintanya kembali.
Audrey seorang perempuan yang juga kekasihnya selama 4tahun belakangan ini.

Salahkan siapa?…

“Awaaaaaaaaasss…!!!”

“Ya Tuhaaaaaaaaaaan…!!!”

“Awas, Buuuuuuuuuuuu…”

“Astagfirullaaaaaaaaaah, awaaaaaas……”

“Astagaaaaaaaaaaaaa………”

“Minggiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiir………….”

Seketika suasana persimpangan jalan yang dilalui rel kereta listrik itu kembali mencekam. Semua orang tak kuasa melihat kejadian yang ada di depan matanya. Tergeletak seorang ibu dan bapak paruh baya yang terlempar karena hantaman keras kereta api listrik yang melintas. Sungguh. Kejadian ini sudah yang kesekian kalinya. Warga sekitar stasiun tebet dan stasiun Cawang kerap kali melihat kejadian serupa. Lampu peringatan beserta alarm peringatan pun sudah tidak berfungsi dengan baik.
Tak ada yang berani mendekati mayat keduanya. Hanya memandang miris. Beberapa menit kemudian, semua orang melanjutkan aktivitasnya masing-masing.


Jakarta pagi ini.

di tempat biasa…

“Baiklah… Pukul 4.30 sore ya…?”

“Seperti biasa, di tempat biasa kan? Okey…”

Saya menyudahi pembicaraan via seluler itu. Bergegas merapikan rambut yang sedari pagi saya gulung dengan rollan rambut murahan ini. Tepat wajah didepan saya, sungguh beda dari biasanya. Dengan rambut bak gelombang pas dengan wajah yang saya lihat di cermin.

Telepon berdering lagi. Seperti pengganggu saja. Mengulur waktu berdandan, kalau saya angkat. Saya biarkan saja ia terus bernyanyi.

Sudah 45menit ditempat biasa. Tante Molly tak kunjung datang. Kulihat telepon genggamku dan ada pesan masuk.

Sayang, maaf ya… Anak tante baru saja datang dari luar kota. Nanti tante kabari lagi ya…