Minumlah Susu Anda dengan Bijak #5BukudalamHidupku

Judul: Don’t Drink Your Milk
Pengarang: Frank A. Oski, M.D.
Penerbit: Nourabooks
Tahun: 2013
Jumlah halaman: 155

4 sehat 5 sempurna. Konon, makanan sehari-hari tidak akan lengkap tanpa mengonsumsi susu. Tapi ini tidak berlaku bagi saya. Dulu waktu masih SD kelas 1 sih iya, setelah itu tidak lagi. Entah karena apa saya cenderung tidak menyukai semua makanan yang salah satu bahannya adalah susu. Bau susu sangat khas dan itu membuat saya mual.

Banyak orang-orang di sekitar saya heran dengan ketidaksukaan saya ini. Apalagi para ibu yang punya naluri ke-ibu-an selalu berkomentar, “nanti kalau
image

hamil gimana? Kan mesti minum susu…” atau “nanti kalau punya anak, anaknya mau dikasih minum apa, mamanya gak doyan susu gitu…” Persepsi apapun yang ada di pikiran mereka, satu hal yang mungkin dilupakan, ASI.

Slogan-slogan di televisi yang mengajak kita untuk berpikir bahwa asupan gizi akan terpenuhi kalau sudah minum susu. Sebelum minum susu akan tidak seimbang. Kok bisa? Bukannya Tuhan menciptakan ASI untuk manusia. Begitu juga susu sapi, susu sapi pun diciptakan Tuhan ya untuk anak-anak sapi dong. Masa kita sebagai manusia masih juga kepingin jatahnya anak sapi?

***

Sebagai publicist freelance di sebuah penerbit buku, saya beruntung mendapat beberapa buku berdasarkan genre buku yang saya pegang. Ada buku-buku motivasi, parenting, konseling juga buku-buku bertema kesehatan. Saya diberitahu kalau akan ada buku kesehatan yang rilis di bulan Juni yang lalu. Buku itu berjudul “Don’t drink your milk” karya Frank A. Oski, M.D.. Sontak saya tertarik dengan judul buku yang disebutkan tim marketing di penerbit itu. Kemudian beberapa hari setelah itu saya dikirimi buku yang sangat buat saya penasaran ini. Saya yang seorang anti-susu sangat merasa naik daun dengan hadirnya buku ini. Walaupun saya belum membaca buku yang mengungkap fakta mengejutkan di balik mitos kehebatan susu. Sekali lagi, susu yang saya bicarakan di sini adalah susu sapi ya. Lain hal dengan ASI (Air Susu Ibu) yang dikonsumsi secara wajar hingga kurang lebih sampai anak berusia 2 tahun saja. Buku Don’t Drink Your Milk ini juga ditambahkan pengantar oleh dr. Arifianto, Sp.A., sorang dokter anak yang juga penulis dari buku berjudul Orangtua Cermat Anak Sehat. Dalam buku ini, dr. Arif juga menambahkan kalau susu hanya dibutuhkan dalam porsi seperlunya yang juga bisa digantikan dengan sumber-sumber makanan lain yang kaya kalsium.

***

Lantas, apa yang terlintas dalam pikiran kamu ketika mendengar kata “susu”? Hihihi… Saya langsung membayangkan bagaimana ‘bau’ susu itu menyerbak. Tapi anehnya, saya sangat suka susu fermentasi alias yogurt. Saya bisa menghabiskan 2 porsi yogurt di kafe-kafe yang khusus menyediakan produk freeze yogurt. Balik ke pertanyaan di atas, apa yang terlintas dalam pikiran kamu ketika mendengar kata “susu”? Khususnya untuk para orang tua, kira-kira menghabiskan anggaran berapa banyak dalam satu bulan untuk anak yang mengonsumsi susu sapi? Jika susu sapi dihapus dari pola makan, apa alternatif yang tersedia? Alternatif yang tersedia tentunya dibedakan berdasarkan usia masing-masing. Padahal kita semua tahu, kalau susu sapi atau biasa disebut susu formula tidaklah bisa meniru ASI dalam tingkat proteksinya terhadap infeksi. Fyi, sejak 1981, WHO sudah melarang promosi susu formula bayi di negara berkembang dan mendukung konsep bahwa semua bayi harus diberi ASI jika memungkinkan. Biasanya alasan utama Ibu menghentikan asupan ASI bagi bayi adalah pekerjaan. Ibu-ibu yang bekerja cenderung tak mau ambil pusing dengan kebutuhan bayinya lantaran ia berpikir, menggantinya dengan susu formula sudah bisa menggantikan asupan susu bagi anak/bayinya. Sang ibu pasti lupa ya, kalau anaknya itu anak manusia, jadi ya kasih ASI dong… Bisa lebih irit juga kan? 😀

***

Buku ini akan membuat kita tak lagi memandang segelas susu dengan cara yang sama. Tak lagi menangisi susu yang tumpah. Tak lagi pusing dengan biaya bulanan yang disita oleh merek-merek susu yang menawarkan beragam slogan-slogan pemasarannya. Saking hebatnya, susu sapi sering dijadikan solusi berbagai masalah kesehatan. Bak jamur di musim hujan, munculah beraneka ragam merek susu. Ada susu untuk bayi, untuk anak sulit makan, untuk remaja yang ingin tumbuh tinggi, hingga untuk para lansia yang ingin tampil awet muda, eh salah, ingin mencegah pengeroposan tulang ding. :p

Buku Don’t Drink Your Milk ini tidak semata saya jadikan pembenaran atas ketidaksukaan saya terhadap susu. Tapi, melalui buku ini, saya berusaha netral dan mendapati berbagai fakta yang dipaparkan Dr. Oski tentang susu yang selama ini kita salah kaprah menilainya. Satu hal yang ingin saya sampaikan bersamaan dengan buku ini adalah kutipan tulisan dr. Arif dalam buku ini yaitu, “minumlah susu Anda dengan bijak. Karena susu sapi adalah untuk sapi. ASI untuk manusia.”

Salam.

Iklan

Find your passion from the book you read…

Title: Marketing Communications Orchestra, Harmonisasi, Iklan, Promosi, dan Marketing Public Relations

Author: Hifni Alifahmi

Genre: Non Fiksi

Publisher: Examedia Publishing

Release Date: 2008

Format: Hard Cover

Pages: 262

 

 

Jadi, sudah sampai mana skripsi atau tugas akhirmu kawan?

Lulus kuliah adalah momen yang paling dinanti bagi anak mahasiswa yang mengalami kejenuhan di tengah-tengah masa kuliahnya. Mungkin di antara semester 4 atau 5 ya (itu kalau saya sih…). Tentu saja ada proses menuju momen lulus kuliah, tiada lain yaitu momen mengerjakan skripsi atau tugas akhir. Pada semester akhir ini rasanya euphoria kelulusan ada di pelupuk matamu. Namun, perjuangan untuk memulai skripsi terasa membebani seluruh persendian tubuh saya, mungkin diantara kamu ada juga yang merasakan seperti ini. Ditambah saya adalah satu dari para mahasiswa yang kuliah sambil bekerja. Banyak sekali kendala yang membuat diri saya fokus untuk mulai mengerjakan skripsi. Tak ayal, banyak yang menyebut skripsi dengan sebutan konyol, misalnya ‘Skripsh*t’. =D

Skripsi. Apa yang terlintas di pikiranmu ketika mendengar kata ‘skripsi’? Senang? Bahagia? Terharu? Bagaimana tidak, kelulusan sudah di pelupuk mata. Tapi kenapa harus ada skripsi sih? Ya ya ya… Ini pertanyaan yang sangat teoritis dan normatif jika dijawab. Jadi, anggap saja saya sudah paham alasan diselenggarakannya skripsi oleh para penyelenggara pendidikan saat ini. hufftt… #selfpukpuk

Ketertatikan saya di dunia komunikasi dimulai saat saya memutuskan untuk mengambil kuliah D3 jurusan Public Relations. Saya memutuskan untuk mengambil jurusan Public Relations dengan alasan yang sangat sederhana, agar bisa ngomong di depan orang banyak. Saya tipikal pendiam dan pelit bicara. Namun setelah nyemplung di dunia komunikasi, khususnya Public Relations, alhasil apa yang saya inginkan lama-lama membuahkan hasil. Teringat ucapan Susan Cole yang berbunyi, “Sometimes quite people really do have a lot of to say. They’re just being careful about who they open up to”, nah! Saya merasa tercerahkan atas ucapannya Mbak Susan. Jadi selama ini saya bukan pendiam, saya hanya hati-hati dengan apa yang saya bicarakan, di mana saya berbicara, dengan siapa saya berbicara dan kapan saya berbicara. Oke, ini ribet sepertinya… Tetapi, dengan mendalami ilmu komunikasi khususnya Public Relations, saya pun akhirnya tercerahkan dan merasa salah dengan alasan sederhana saya untuk memilih jurusan perkuliahan waktu itu. Menjadi seorang yang pintar berbicara dengan menjadi seorang pembicara sangatlah berbeda. Seseorang yang pintar berbicara mungkin sudah dikaruniai oleh Tuhan keahlian dalam berbicara yang bahkan ia tak perlu belajar bagaimana cara berbicara yang baik. Beda dengan seorang pembicara yang sangat memerhatikan apa yang ia bicarakan dan kondisi-kondisi lainnya. Seorang pembicara cenderung berada pada situasi di mana ia diminta untuk berbicara karena pendapat atau opininya sangat atau bisa mempengaruhi orang disekitarnya. Atas dasar banyak hal, saya pun memilih untuk jadi pembicara bukan orang yang pintar berbicara. Hehehe…

***

Maka, tibalah waktunya saya menyelesaikan tugas akhir D3 Public Relations yang saya inginkan 3 tahun terakhir. Ketika menyelesaikan skripsi atau tugas akhir tidaklah jauh dari praktik kerja lapangan atau PKL, atau ada juga yang menyebutnya Kuliah Kerja Nyata disingkat jadi KKN yang hasilnya bisa diterjemahkan dalam bentuk laporan tugas akhir atau skripsi. Selain itu, kita pasti dituntut untuk mencari buku-buku referensi guna mendukung apa yang ingin kita angkat dalam laporan tugas akhir atau skripsi kita itu. Sederetan buku referensi pun saya pinjam dari perpustakaan kampus dan dari beberapa perpustakaan kampus tetangga. Dengan batasan tahun terbitnya buku, pengarang, dan juga jumlah buku yang dijadikan referensi, akhirnya membuat saya merasa kurang dengan buku-buku yang ada di perpustakaan kampus dan perpustakaan kampus tetangga. Saya memutuskan untuk mencari buku referensi lainnya di Kwitang. Kwitang dikenal sebagai salah satu lokasi untuk kita mencari buku-buku lawas atau bahkan buku-buku KW –istilah untuk barang bajakan—bisa ditemukan di sana.

Saya menyusuri beberapa toko yang dari jauh para penjual sudah siap menyapa dan menawarkan beragam buku yang mereka jual, padahal belum tentu itu buku yang saya butuhkan. Beberapa toko terlewati, belum juga menemukan buku yang saya cari. Murah dan cocokable. Berbelanja buku di Kwitang pun harus hati-hati, alih-alih murah meriah, kamu dapat buku KW kelas bawah, belum tentu cocok pula isinya dengan aturan buku referensi. Tapi beruntungnya saya, ada satu penjual yang bertanya, “Mau cari buku apa, Dek?”, “Buku tentang Marketing Komunikasi, Mas. Ada gak?” berharap si penjual bisa memberikan buku yang cocokable dengan kantong dan standar buku referensi yang diberikan oleh kampus. Beberapa menit kemudian, si penjual membawakan satu buku berjudul “Marketing Communications Orchestra” dengan judul kecil ‘Harmonisasi, Iklan, Promosi, dan Marketing Public Relations’ karya Hifni Alifahmi, seorang praktisi Komunikasi Pemasaran yang namanya sudah tidak asing lagi di telinga saya. Sippiriliiiiiiii…melihat cover depannya saja saya sudah merasa jatuh hati. Saya buka sekilas saja isi buku ini dan tanpa banyak tedeng aling-aling, saya langsung membelinya. Fyi, buku ini asli lho, bukan KW. \(^^)/

Buku seharga 35.000 rupiah yang berisi 262 halaman terbitan EXAMEDIA dengan pengantar dari Guru Besar Pemasaran Internasional UI, Prof. Dr. Martani Huseini, ini menawarkan sebuah perspektif ‘beyond marketing’ dan mencoba melihat terobosan dari setiap kegiatan pemasaran. Buku ini berbasis konsep Integrated Marketing Communications (IMC) dan diperkuat oleh sejumlah konsep ilmu ke-IMC-an. Memang sih, berbicara buku referensi untuk ilmu komunikasi pemasaran sangat banyak, apalagi banyak referensi yang pengarangnya dari luar negeri, sebut saja Philip Kotler, Tom Duncan George Belch & Michael A. Belch, dan masih banyak lagi nama-nama yang kerap mendunia di bidang ilmu komunikasi dan bauran komunikasi lainnya. Tapi untuk pengarang lokal yang juga praktisi di bidang komunikasi pemasaran, banyak sederetan nama yang sering wara-wiri di buku-buku panduan ilmu komunikasi pemasaran di kampus kita. Sebut saja Rhenald Kasali.

Buku ini membius kita untuk memahami dan mempraktikkan komunikasi pemasaran tanpa merasa digurui ini sangat terasa spirit orchestra di dalamnya. Setidaknya, kita pun diajak untuk sedikit mengenal tujuh dimensi orchestra, yakni satu dirijen, harmonisasi, tematik, berirama, spesifik, keterpaduan, dan apresiasi. Hihiii… Jadi pengen nyanyi… Lalalalalaaaa……

Meski sudah banyak buku referensi komunikasi pemasaran yang saya punya saat ini, buku ini saya suka baca hingga saat ini. Ketika pikiran hamper buntu, ketika ide semakin kusut, saya mencoba menelusuri lembar-demi lembar buku yang sangat sederhana kata per katanya, dan tidak perlu takut dengan istilah-istilah teoritis yang bisa kita pahami dengan mudah. Saya menulis ini sembari mengingat-ingat perkataan Bajang, ‘Iyut seorang Marketing Harapan Bangsa’ Hahaha… Ya, mungkin inilah passion saya…

***

Dunia komunikasi yang erat kaitannya dengan pemasaran sangat berpengaruh dengan apa yang saya kerjakan saat ini. Pastinya, keseriusan di bidang ini akan membuahkan hasil. Saya percaya itu. Modal pendidikan D3 Public Relations ini sangat memacu saya untuk focus di bidang Komunikasi Pemasaran. Saat ini pun saya masih menekuni pendidikan S1 fokus di Marketing Communication di Fakultas Ekonomi (yang sebenarnya gak nyambung, MarComm. tapi di FE. Ah, sudahlah… Terima saja…). Hingga saat ini, saya rasa passion saya ya di dunia komunikasi pemasaran dengan segala macam atributnya. Dan tentunya, bersama buku ini yang juga menghantarkan saya hingga lulus pendidikan D3 Public Relations dengan nilai A.

***

Tidak menutup rasa hormat saya kepada penyelenggara perhelatan dadakan #5BukudalamHidupku, Irwan Bajang, yang juga bisa kamu temui di linimasa social media twitter dengan akun @IrwanBajang, saya berterimakasih sudah diajak untuk ikut mudik bersama ke blog ta masing-masing. Mungkin kalau kamu lihat postingan di bawah tulisan ini, itu diposting bulan Februari lalu. Yes! 9 bulan yang lalu. Kemana saja saya selama ini? Tak ingat jalan pulang menuju kolom-kolom kosong yang sudah kekeringan ini. #JengJeng