Minumlah Susu Anda dengan Bijak #5BukudalamHidupku

Judul: Don’t Drink Your Milk
Pengarang: Frank A. Oski, M.D.
Penerbit: Nourabooks
Tahun: 2013
Jumlah halaman: 155

4 sehat 5 sempurna. Konon, makanan sehari-hari tidak akan lengkap tanpa mengonsumsi susu. Tapi ini tidak berlaku bagi saya. Dulu waktu masih SD kelas 1 sih iya, setelah itu tidak lagi. Entah karena apa saya cenderung tidak menyukai semua makanan yang salah satu bahannya adalah susu. Bau susu sangat khas dan itu membuat saya mual.

Banyak orang-orang di sekitar saya heran dengan ketidaksukaan saya ini. Apalagi para ibu yang punya naluri ke-ibu-an selalu berkomentar, “nanti kalau
image

hamil gimana? Kan mesti minum susu…” atau “nanti kalau punya anak, anaknya mau dikasih minum apa, mamanya gak doyan susu gitu…” Persepsi apapun yang ada di pikiran mereka, satu hal yang mungkin dilupakan, ASI.

Slogan-slogan di televisi yang mengajak kita untuk berpikir bahwa asupan gizi akan terpenuhi kalau sudah minum susu. Sebelum minum susu akan tidak seimbang. Kok bisa? Bukannya Tuhan menciptakan ASI untuk manusia. Begitu juga susu sapi, susu sapi pun diciptakan Tuhan ya untuk anak-anak sapi dong. Masa kita sebagai manusia masih juga kepingin jatahnya anak sapi?

***

Sebagai publicist freelance di sebuah penerbit buku, saya beruntung mendapat beberapa buku berdasarkan genre buku yang saya pegang. Ada buku-buku motivasi, parenting, konseling juga buku-buku bertema kesehatan. Saya diberitahu kalau akan ada buku kesehatan yang rilis di bulan Juni yang lalu. Buku itu berjudul “Don’t drink your milk” karya Frank A. Oski, M.D.. Sontak saya tertarik dengan judul buku yang disebutkan tim marketing di penerbit itu. Kemudian beberapa hari setelah itu saya dikirimi buku yang sangat buat saya penasaran ini. Saya yang seorang anti-susu sangat merasa naik daun dengan hadirnya buku ini. Walaupun saya belum membaca buku yang mengungkap fakta mengejutkan di balik mitos kehebatan susu. Sekali lagi, susu yang saya bicarakan di sini adalah susu sapi ya. Lain hal dengan ASI (Air Susu Ibu) yang dikonsumsi secara wajar hingga kurang lebih sampai anak berusia 2 tahun saja. Buku Don’t Drink Your Milk ini juga ditambahkan pengantar oleh dr. Arifianto, Sp.A., sorang dokter anak yang juga penulis dari buku berjudul Orangtua Cermat Anak Sehat. Dalam buku ini, dr. Arif juga menambahkan kalau susu hanya dibutuhkan dalam porsi seperlunya yang juga bisa digantikan dengan sumber-sumber makanan lain yang kaya kalsium.

***

Lantas, apa yang terlintas dalam pikiran kamu ketika mendengar kata “susu”? Hihihi… Saya langsung membayangkan bagaimana ‘bau’ susu itu menyerbak. Tapi anehnya, saya sangat suka susu fermentasi alias yogurt. Saya bisa menghabiskan 2 porsi yogurt di kafe-kafe yang khusus menyediakan produk freeze yogurt. Balik ke pertanyaan di atas, apa yang terlintas dalam pikiran kamu ketika mendengar kata “susu”? Khususnya untuk para orang tua, kira-kira menghabiskan anggaran berapa banyak dalam satu bulan untuk anak yang mengonsumsi susu sapi? Jika susu sapi dihapus dari pola makan, apa alternatif yang tersedia? Alternatif yang tersedia tentunya dibedakan berdasarkan usia masing-masing. Padahal kita semua tahu, kalau susu sapi atau biasa disebut susu formula tidaklah bisa meniru ASI dalam tingkat proteksinya terhadap infeksi. Fyi, sejak 1981, WHO sudah melarang promosi susu formula bayi di negara berkembang dan mendukung konsep bahwa semua bayi harus diberi ASI jika memungkinkan. Biasanya alasan utama Ibu menghentikan asupan ASI bagi bayi adalah pekerjaan. Ibu-ibu yang bekerja cenderung tak mau ambil pusing dengan kebutuhan bayinya lantaran ia berpikir, menggantinya dengan susu formula sudah bisa menggantikan asupan susu bagi anak/bayinya. Sang ibu pasti lupa ya, kalau anaknya itu anak manusia, jadi ya kasih ASI dong… Bisa lebih irit juga kan? 😀

***

Buku ini akan membuat kita tak lagi memandang segelas susu dengan cara yang sama. Tak lagi menangisi susu yang tumpah. Tak lagi pusing dengan biaya bulanan yang disita oleh merek-merek susu yang menawarkan beragam slogan-slogan pemasarannya. Saking hebatnya, susu sapi sering dijadikan solusi berbagai masalah kesehatan. Bak jamur di musim hujan, munculah beraneka ragam merek susu. Ada susu untuk bayi, untuk anak sulit makan, untuk remaja yang ingin tumbuh tinggi, hingga untuk para lansia yang ingin tampil awet muda, eh salah, ingin mencegah pengeroposan tulang ding. :p

Buku Don’t Drink Your Milk ini tidak semata saya jadikan pembenaran atas ketidaksukaan saya terhadap susu. Tapi, melalui buku ini, saya berusaha netral dan mendapati berbagai fakta yang dipaparkan Dr. Oski tentang susu yang selama ini kita salah kaprah menilainya. Satu hal yang ingin saya sampaikan bersamaan dengan buku ini adalah kutipan tulisan dr. Arif dalam buku ini yaitu, “minumlah susu Anda dengan bijak. Karena susu sapi adalah untuk sapi. ASI untuk manusia.”

Salam.

Find your passion from the book you read…

Title: Marketing Communications Orchestra, Harmonisasi, Iklan, Promosi, dan Marketing Public Relations

Author: Hifni Alifahmi

Genre: Non Fiksi

Publisher: Examedia Publishing

Release Date: 2008

Format: Hard Cover

Pages: 262

 

 

Jadi, sudah sampai mana skripsi atau tugas akhirmu kawan?

Lulus kuliah adalah momen yang paling dinanti bagi anak mahasiswa yang mengalami kejenuhan di tengah-tengah masa kuliahnya. Mungkin di antara semester 4 atau 5 ya (itu kalau saya sih…). Tentu saja ada proses menuju momen lulus kuliah, tiada lain yaitu momen mengerjakan skripsi atau tugas akhir. Pada semester akhir ini rasanya euphoria kelulusan ada di pelupuk matamu. Namun, perjuangan untuk memulai skripsi terasa membebani seluruh persendian tubuh saya, mungkin diantara kamu ada juga yang merasakan seperti ini. Ditambah saya adalah satu dari para mahasiswa yang kuliah sambil bekerja. Banyak sekali kendala yang membuat diri saya fokus untuk mulai mengerjakan skripsi. Tak ayal, banyak yang menyebut skripsi dengan sebutan konyol, misalnya ‘Skripsh*t’. =D

Skripsi. Apa yang terlintas di pikiranmu ketika mendengar kata ‘skripsi’? Senang? Bahagia? Terharu? Bagaimana tidak, kelulusan sudah di pelupuk mata. Tapi kenapa harus ada skripsi sih? Ya ya ya… Ini pertanyaan yang sangat teoritis dan normatif jika dijawab. Jadi, anggap saja saya sudah paham alasan diselenggarakannya skripsi oleh para penyelenggara pendidikan saat ini. hufftt… #selfpukpuk

Ketertatikan saya di dunia komunikasi dimulai saat saya memutuskan untuk mengambil kuliah D3 jurusan Public Relations. Saya memutuskan untuk mengambil jurusan Public Relations dengan alasan yang sangat sederhana, agar bisa ngomong di depan orang banyak. Saya tipikal pendiam dan pelit bicara. Namun setelah nyemplung di dunia komunikasi, khususnya Public Relations, alhasil apa yang saya inginkan lama-lama membuahkan hasil. Teringat ucapan Susan Cole yang berbunyi, “Sometimes quite people really do have a lot of to say. They’re just being careful about who they open up to”, nah! Saya merasa tercerahkan atas ucapannya Mbak Susan. Jadi selama ini saya bukan pendiam, saya hanya hati-hati dengan apa yang saya bicarakan, di mana saya berbicara, dengan siapa saya berbicara dan kapan saya berbicara. Oke, ini ribet sepertinya… Tetapi, dengan mendalami ilmu komunikasi khususnya Public Relations, saya pun akhirnya tercerahkan dan merasa salah dengan alasan sederhana saya untuk memilih jurusan perkuliahan waktu itu. Menjadi seorang yang pintar berbicara dengan menjadi seorang pembicara sangatlah berbeda. Seseorang yang pintar berbicara mungkin sudah dikaruniai oleh Tuhan keahlian dalam berbicara yang bahkan ia tak perlu belajar bagaimana cara berbicara yang baik. Beda dengan seorang pembicara yang sangat memerhatikan apa yang ia bicarakan dan kondisi-kondisi lainnya. Seorang pembicara cenderung berada pada situasi di mana ia diminta untuk berbicara karena pendapat atau opininya sangat atau bisa mempengaruhi orang disekitarnya. Atas dasar banyak hal, saya pun memilih untuk jadi pembicara bukan orang yang pintar berbicara. Hehehe…

***

Maka, tibalah waktunya saya menyelesaikan tugas akhir D3 Public Relations yang saya inginkan 3 tahun terakhir. Ketika menyelesaikan skripsi atau tugas akhir tidaklah jauh dari praktik kerja lapangan atau PKL, atau ada juga yang menyebutnya Kuliah Kerja Nyata disingkat jadi KKN yang hasilnya bisa diterjemahkan dalam bentuk laporan tugas akhir atau skripsi. Selain itu, kita pasti dituntut untuk mencari buku-buku referensi guna mendukung apa yang ingin kita angkat dalam laporan tugas akhir atau skripsi kita itu. Sederetan buku referensi pun saya pinjam dari perpustakaan kampus dan dari beberapa perpustakaan kampus tetangga. Dengan batasan tahun terbitnya buku, pengarang, dan juga jumlah buku yang dijadikan referensi, akhirnya membuat saya merasa kurang dengan buku-buku yang ada di perpustakaan kampus dan perpustakaan kampus tetangga. Saya memutuskan untuk mencari buku referensi lainnya di Kwitang. Kwitang dikenal sebagai salah satu lokasi untuk kita mencari buku-buku lawas atau bahkan buku-buku KW –istilah untuk barang bajakan—bisa ditemukan di sana.

Saya menyusuri beberapa toko yang dari jauh para penjual sudah siap menyapa dan menawarkan beragam buku yang mereka jual, padahal belum tentu itu buku yang saya butuhkan. Beberapa toko terlewati, belum juga menemukan buku yang saya cari. Murah dan cocokable. Berbelanja buku di Kwitang pun harus hati-hati, alih-alih murah meriah, kamu dapat buku KW kelas bawah, belum tentu cocok pula isinya dengan aturan buku referensi. Tapi beruntungnya saya, ada satu penjual yang bertanya, “Mau cari buku apa, Dek?”, “Buku tentang Marketing Komunikasi, Mas. Ada gak?” berharap si penjual bisa memberikan buku yang cocokable dengan kantong dan standar buku referensi yang diberikan oleh kampus. Beberapa menit kemudian, si penjual membawakan satu buku berjudul “Marketing Communications Orchestra” dengan judul kecil ‘Harmonisasi, Iklan, Promosi, dan Marketing Public Relations’ karya Hifni Alifahmi, seorang praktisi Komunikasi Pemasaran yang namanya sudah tidak asing lagi di telinga saya. Sippiriliiiiiiii…melihat cover depannya saja saya sudah merasa jatuh hati. Saya buka sekilas saja isi buku ini dan tanpa banyak tedeng aling-aling, saya langsung membelinya. Fyi, buku ini asli lho, bukan KW. \(^^)/

Buku seharga 35.000 rupiah yang berisi 262 halaman terbitan EXAMEDIA dengan pengantar dari Guru Besar Pemasaran Internasional UI, Prof. Dr. Martani Huseini, ini menawarkan sebuah perspektif ‘beyond marketing’ dan mencoba melihat terobosan dari setiap kegiatan pemasaran. Buku ini berbasis konsep Integrated Marketing Communications (IMC) dan diperkuat oleh sejumlah konsep ilmu ke-IMC-an. Memang sih, berbicara buku referensi untuk ilmu komunikasi pemasaran sangat banyak, apalagi banyak referensi yang pengarangnya dari luar negeri, sebut saja Philip Kotler, Tom Duncan George Belch & Michael A. Belch, dan masih banyak lagi nama-nama yang kerap mendunia di bidang ilmu komunikasi dan bauran komunikasi lainnya. Tapi untuk pengarang lokal yang juga praktisi di bidang komunikasi pemasaran, banyak sederetan nama yang sering wara-wiri di buku-buku panduan ilmu komunikasi pemasaran di kampus kita. Sebut saja Rhenald Kasali.

Buku ini membius kita untuk memahami dan mempraktikkan komunikasi pemasaran tanpa merasa digurui ini sangat terasa spirit orchestra di dalamnya. Setidaknya, kita pun diajak untuk sedikit mengenal tujuh dimensi orchestra, yakni satu dirijen, harmonisasi, tematik, berirama, spesifik, keterpaduan, dan apresiasi. Hihiii… Jadi pengen nyanyi… Lalalalalaaaa……

Meski sudah banyak buku referensi komunikasi pemasaran yang saya punya saat ini, buku ini saya suka baca hingga saat ini. Ketika pikiran hamper buntu, ketika ide semakin kusut, saya mencoba menelusuri lembar-demi lembar buku yang sangat sederhana kata per katanya, dan tidak perlu takut dengan istilah-istilah teoritis yang bisa kita pahami dengan mudah. Saya menulis ini sembari mengingat-ingat perkataan Bajang, ‘Iyut seorang Marketing Harapan Bangsa’ Hahaha… Ya, mungkin inilah passion saya…

***

Dunia komunikasi yang erat kaitannya dengan pemasaran sangat berpengaruh dengan apa yang saya kerjakan saat ini. Pastinya, keseriusan di bidang ini akan membuahkan hasil. Saya percaya itu. Modal pendidikan D3 Public Relations ini sangat memacu saya untuk focus di bidang Komunikasi Pemasaran. Saat ini pun saya masih menekuni pendidikan S1 fokus di Marketing Communication di Fakultas Ekonomi (yang sebenarnya gak nyambung, MarComm. tapi di FE. Ah, sudahlah… Terima saja…). Hingga saat ini, saya rasa passion saya ya di dunia komunikasi pemasaran dengan segala macam atributnya. Dan tentunya, bersama buku ini yang juga menghantarkan saya hingga lulus pendidikan D3 Public Relations dengan nilai A.

***

Tidak menutup rasa hormat saya kepada penyelenggara perhelatan dadakan #5BukudalamHidupku, Irwan Bajang, yang juga bisa kamu temui di linimasa social media twitter dengan akun @IrwanBajang, saya berterimakasih sudah diajak untuk ikut mudik bersama ke blog ta masing-masing. Mungkin kalau kamu lihat postingan di bawah tulisan ini, itu diposting bulan Februari lalu. Yes! 9 bulan yang lalu. Kemana saja saya selama ini? Tak ingat jalan pulang menuju kolom-kolom kosong yang sudah kekeringan ini. #JengJeng

[Info Buku]: Start Here: Read Your Way Into 25 Amazing Authors

Karya penulis siapa yang belum kamu baca lantaran kamu tidak tahu harus mulai dari mana?

Ada banyak penulis dengan karya-karya yang fantastis dan buku hebat di luar sana yang kadang-kadang kita sendiri sulit untuk mengetahui kapan, di mana dan bagaimana untuk memulai memulai membaca karya-karya hebat tersebut. Apalagi banyak bahasa yang digunakan terlalu baku ataupun buku klasik yang diterjemahkan biasanya sangat berbeda dengan maksud tulisan aslinya. Membingungkan bukan?

Yuk, kita mulai untuk memecahkan masalah itu. Buku “Start Here” membantu kita menemukan cara untuk bisa membacadan memahami gaya penulisan 25 penulis hebat dengan karya menakjubkan dari berbagai genre, dari klasik hingga fiksi kontemporer dan komik.

Setiap bab menyajikan kisah seorang penulis, menjelaskan mengapa kita ingin mencoba membaca karya-karya mereka, dan memaparkan 3 – 4 buku bacaan yang dirancang untuk memberikan kita pengalaman yang berbeda dan menyelami sepenuhnya apa yang para penulis itu tawarkan. Yang menyenangkan dari buku ini, mudah diakses dan informatif guna memperkaya ragam bacaan kita sebagai pecinta buku lho…

Beragam penulis, kritikus, dan blogger buku yang ada di dalamnya juga ikut memberikan komentar pada karya-karya para penulis besar ini, sehingga dapat membantu kita untuk memulai membaca karya penulis mana yang harus dibaca terlebih dahulu.

Termasuk bab oleh Erin Morgenstern (The Night Circus) pada Neil Gaiman, Joe Hill (Kotak Hati-Berbentuk) pada Bernard Malamud, Linda Fairstein (The Alexandra Cooper Series) pada Edgar Allan Poe, dan Kevin Smokler (Classics Praktis) di Sherman Alexie.

Selain itu, terdapat juga bab-bab yang memaparkan tahapan dalam membaca penulis-penulis berikut ini:

Margaret Atwood, Jane Austen, Ray Bradbury, Italo Calvino, Philip K Dick, Charles Dickens, E.M. Forster, Gabriel Garcia Marquez, Ernest Hemingway, Zora Neale Hurston, John Irving, Stephen King, Cormac McCarthy, Herman Melville, Arthur Miller, Alice Munro, Haruki Murakami, Richard Russo, Zadie Smith, David Foster Wallace, Colson Whitehead.

Image

Ready for #GoRights2013 ! Yeah!

Haaaeee~~~~

Awalnya saya tidak mengetahui adanya kegiatan #GoRights2013 ini jika saja teman sesama komunitas (beda komunitas) menanyakan saya, apakah saya ikut serta kegiatan ini (dalam hal ini membawa komunitas LoBaLoID) atau tidak? Saya penasaran akan acara ini. Namun hashtag #GoRights2013 ini sangat ramai di timeline ternyata pemirsaaaah… *jitak kepala sendiri lantaran ketinggalan info kece ini*

Acara yang digagas oleh Kontras yang juga bekerjasama dengan beragam komunitas dan pemerintah daerah Jakarta ini merupakan bukan acara pertama kali. Seperti yang kita ketahui, KontraS, yang lahir pada 20 Maret 1998 merupakan gugus tugas yang dibentuk oleh sejumlah organisasi civil society dan tokoh masyarakat. Gugus tugas ini semula bernama KIP-HAM yang telah terbentuk pada tahun 1996. Sebagai sebuah komisi yang bekerja memantau persoalan HAM, KIP-HAM banyak mendapat pengaduan dan masukan dari masyarakat, baik masyarakat korban maupun masyarakat yang berani menyampaikan aspirasinya tentang problem HAM yang terjadi di daerah. Pada awalnya KIP-HAM hanya menerima beberapa pengaduan melalui surat dan kontak telefon dari masyarakat. Namun lama kelamaan sebagian masyarakat korban menjadi berani untuk menyampaikan pengaduan langsung ke sekretariat KIP-HAM.

KontraS bersama Radio 101.4 Trax FM JAKARTA mengundang semua komunitas anak muda khususnya komunitas Sepeda, fotografi, gerakan sosial, dan komunitas unik lainnya untuk ikut serta meramaikan deklarasi “Gerakan Anti Kekerasan” yang akan diadakan pada tanggal 30 Juni 2013, bertempat di Taman Menteng, Jakarta Pusat. Acara ini akan berlangsung dari pkl 06.00wib – selesai.
Image
Agenda yang akan berlangsung adalah jalan-jalan dan naik sepeda bersama-sama, pembacaan deklarasi, dan dilanjutkan dengan penampilan musik dari band-band kece Ibukota.
Taraaaa…. Yang paling seru adalah Love Books A Lot Indonesia juga ikut serta dalam kegiatan ini guys! \o/ Betapa senangnya hatikuuuu… LoBaLoID juga dapet booth dimana kita bisa membuat acara didalamnya. Tentu kita gak mau kalah dooong…. LoBaLoID akan menghadirkan beberapa sesi bedah buku dan diskusi tips-tips menulis bersama Ayu Widya dan Eprie Tsaqib. Semua pasti kenal keduanya kan? =D
Agar tidak terasa hambar, para lobaloiders juga ikut tampil dengan membawakan musikalisasi puisi dan monolog yang sedang disiapkan dari beberapa hari ini. Senangnyaaa…. \(^^)/
Nah, keuntungannya bagi kita yang ikutan bisa sehat bareng, dapet kenalan, gebetan dan juga bisa promo bebas tentang komunitasnya (misalnya bagi-bagi flyer), nonton band sekelas Morfem gratis! (yeyeyeeee… lalalaaaa…) dan pastinya ikut berpartisipasi dalam kampanye “Gerakan Anti Kekerasana”

[Event Review]: Talkshow HypnoBeauty bersama Bunda Dewi P. Faeni by Nourabooks Publishing

“Cantik itu adalah hak semua wanita, yuk tampil cantik ala Hypnobeauty untuk kamu yang ingin cantik luar dan dalam.”

Image

Jum’at, 21/06/2013, Nourabooks Publishing dengan bangga mempersembahkan acara “Talkshow Hypnobeauty” bersama Bunda Dr. Dewi P. Faeni, MHt., di Dharmawangsa Square Citiwalk, Jakarta. Acara ini dihadiri oleh para wanita cantik Indonesia dari beragam latar belakang pekerjaan, tempat tinggal juga usia.

Bagi perempuan, cantik tak semata berarti berparas menawan dan bertubuh indah. Melainkan juga sehat lahir-batin. Tak ada gunanya kecantikan lahiriah tersebut jika batin selalu merasa tidak tenang, gundah, hampa, ataupun tidak percaya diri. Cantik yang sesungguhnya merupakan kombinasi yang seimbang antara fisik, pikiran, dan jiwa yang prima.

Image

HypnoBeauty merupakan metode untuk memaksimalkan potensi diri perempuan agar menjadi cantik luar-dalam melalui kekuatan pikiran, yang dikenal dengan hipnosis. Masalah sesulit apa pun akan bisa Anda hadapi. Ditinggalkan pasangan, tak kunjung bertemu pujaan hati, tidak percaya diri, merasa terlalu gemuk atau kurus, atau didera stres karena pekerjaan? HypnoBeauty adalah solusinya.

Acara yang berlangsung pukul 16.00 sore ini menjadi ajang bagi kita, para wanita Indonesia untuk mendapatkan insight baru perihal kecantikan, tapi juga kita bisa bertanya dan berkonsultasi dengan Bunda Dewi, sapaan untuk narasumber yang juga penulis dari buku Hypnoparenting dan Hypnobeauty ini. Bahkan, para peserta juga diajak untuk mempraktikkan kegiatan hypnosis yang bertujuan untuk sama-sama menjadi pribadi yang baru, lebih percaya diri, dan bahagia dalam menjalani kegiatan setiap harinya.

Image

Image

Di acara ini, Bunda Dewi juga mendapat piagam penghargaan dari Pihak Pengelola Dharmawangsa Squar Citiwalk, Jakarta. Tak lupa di akhir acara juga ada sesi foro bersama Bunda Dewi dengan para peserta Talkshow Hypnobeauty ini. Nantikan acara menarik selanjutnya ya. Karena cantik, tak selalu perihal penampilan fisik saja. Cantik ala Hypnobeauty, untuk kamu yang ingin cantik luar dan dalam. Yey!

Heavenly Sawarna

Perencanaan yang dadakan dan persiapan yang sederhana tak mengurungkan niat saya untuk tetap berangkat bersama beberapa teman untuk menyambangi “Heavenly Sawarna” kalau kata orang-orang sih gitu. Lokasi Pantai Sawarna yang terletak di selatan provinsi Banten ini sangat memukau penampakan pantai dan kondisi alam sekitarnya. Pertama kali menyebut kata Sawarna, beberapa orang sekitar saya ada yang mengira itu pantai di Bali, Yogyakarta, dan Lombok. Hehe… Salah.

Sebelum saya ceritakan lebih lanjut pengalaman berkunjung ke pantai Sawarna ini, saya akan tunjukkan posisi pantai Sawarna kalau dilihat dari Jakarta, Bandung, dan sekitarnya.

Image

Image
photo by: Andiwenas

Nah, sudah kebayang kan posisi Pantai Sawarna ini ada di sebelah mana kotamu?

Jadilah, saya dan 6 orang teman kantor berencana menghabiskan libur akhir pekan kali ini ke pantai Sawarna dengan berkendara sepeda motor yang khusus atau biasa digunakan untuk perjalanan jarak jauh atau biasa kita sebut motor khusus untuk touring. Berangkat dari Jakarta hari Jum’at tanggal 7 Juni sekitar jam 9 malam. Mengapa kami memilih perjalanan malam? Selain menghindari macet, kami juga harus tetap menunaikan kewajiban kami sebagai pekerja kantoran, apalagi saya yang harus menjalani Ujian Akhir Semester dulu. (Maklum, anak kuliahan juga soalnya… hehe… )

Berangkatlah kami menggunakan 4 motor melalui jalur Depok – Bogor – Sukabumi – Lebak – Bayah, Banten Selatan. Perjalanan malam yang terasa sangat panjang menurut saya, karena kami sampai di lokasi jam 9 pagi keesokan harinya. Selama perjalanan menuju kesana, kami sempat berhenti di beberapa rest area guna melepaskan lelah sejenak sambil ngopi-ngopi dulu.

Jika berniat ke pantai Sawarna menggunakan sepeda motor, saya sarankan menggunakan sepeda motor khusus untuk touring. Kondisi jalan yang rusak setelah memasuki wilayah Bayah sangat berbahaya jika kita menggunakan kendaraan semisal sepeda motor bebek standard, motor dengan mesin matic, mobil dengan kondisi ban ceper pun tidak saya sarankan untuk digunakan kesana. Struktur jalanannya pun turun-naik seperti sedang naik kora-kora di Dufan. Tentu bisa dibayangkan bagaimana jantung yang ikut naik-turun juga…

Tadaaaa…. Akhirnya sampai juga di Desa Sawarna. Eiits… Dari gapura utama Desa Sawarna ini, kita harus melewati kali yang dilalui aliran sungai yang sangat deras. Bagaimana melewatinya? Ini yang jadi persoalan. Kita harus masuk ke Desa Sawarna menggunakan jembatan kayu yang disambung dengan tali tambang besar-besar. Jembatan ini hanya bisa dilalui pejalan kaki, sepeda, dan sepeda motor saja. Dan aturannya, hanya bisa satu sepeda atau sepeda motor saja yang bisa melewatinya. Artinya, kita harus bergantian untuk melalui jembatan itu.

Menunggu antrian unuk melewati jembatan.
Menunggu antrian unuk melewati jembatan
Pintu Masuk Desa Sawarna melalu Jembatan ini.
Pintu Masuk Desa Sawarna melalu Jembatan ini

Setelah berhasil melewati jembatan setapak itu, akhirnya kami memasuki wilayah desa Sawarna yang juga tidak memiliki jalan besar. Jalannya hanya diperuntukkan pejalan kaki, sepeda dan sepeda motor saja. Jika pengunjung membawa mobil atau bis pariwisata, biasanya diparkir di area parkir di luar desa yang memang khusus disediakan oleh warga setempat. Oiya, masuk ke desa Sawarna ini kita harus membayar tiket masuk per orang seharga 5.000 rupiah saja.

Pemukiman desa Sawarna ini sepertinya belum terlalu padat. Rumah-rumah warga setempat banyak yang dijadikan home stay untuk disewakan ke para pengunjung. Namun kami tidak memilih untuk menyewa home stay ini. Kami terus masuk kearah pantai. Jika dipetakan, di desa Sawarna ini area pemukiman hanya di depan saja. Area tengah desa digunakan warga setempat untuk bercocok tanam dan ujung desa ini adalah pantai yang kita sebut, pantai Sawarna ini.

Pasir putih yang terdapat di pantai inilah yang menurut saya sangat menarik. Tak kalah indah dengan pantai-pantai di Bali, Lombok, dan di beberapa wilayah Indonesia lainnya, ini merupakan lokasi yang patut kamu kunjungi segera. Tempat wisata yang masih belum terjamah ini, sangat membuat kita yang ingin melepaskan penat perkotaan sangat manjur. Pengunjungnya pun tidak banyak, padahal hari itu saya termasuk di pekan libur panjang, lho. Bisa dibayangkan di hari-hari akhir pekan biasa, pasti lebih sedikit pengunjungnya.

Tiba di Sawarna langsung mejeng ^^
Tiba di Sawarna langsung mejeng ^^

Pantai Sawarna yang menyuguhi keindahan laut dan alam sekitarnya ini ternyata mempunyai banyak spot untuk kita kunjungi selain pantainya itu sendiri. Jika kamu tidak malas, kamu bisa berjalan ke arah timur pantai dimana terdapat Kebun Pari yang mungkin dulunya banyak ikan pari, tapi saya sayangnya tidak menemui itu. Disana terdapat hamparan karang yang banyak digenangi air dan terdapat ikan-ikan serta bintang laut yang bersembungi diantara karang yang digenangi air tersebut.

IMG_20130610_012124
Kebun Pari, Pantai Sawarna, Banten
Bintang Laut yang bersembunyi di air yang menggenang di karang-karang.
Bintang Laut yang bersembunyi di air yang menggenang di karang-karang

 

 

 

 

Lanjut lagi perjalanan saya menuju Tanjung Layar. Kita akan disuguhi oleh dua tebing tinggi yang sangat kokoh diterjang ombak luat Sawarna. Disebelah kanan kiri dua tebing itu ada pagar terbuat dari batu, entah itu karang juga atau bukan, jadi setiap ada ombak yang menghantam pagar batu tersebut, akan menghasilkan benturan hebat yang mengakbitkan air laut menyembur tinggi. Melihat ini, saya seperti sedang ada di kolam renang besar dengan arena yang bisa membuat ombak buatan dan menyemburkan hujan air dengan jumlah yang sangat besar. Keren bangeeeeeet…

Tanjung Layar, Dua tebing yang kokoh.
Tanjung Layar, Dua tebing yang kokoh
Tanjung Layar.
Tanjung Layar
Pagar Batu yang ada di sebelah kanan tebing. Dihantam ombak namun tetap kokoh.
Pagar Batu yang ada di sebelah kanan tebing. Dihantam ombak namun tetap kokoh

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah dari Tanjung Layar, kita beranjak ke Goa. Tidak jauh dari lokasi Tanjung Layar, tetapi karena hari sudah semakin gelap, saya tidak bisa mengambil foto karena gambarnya gelap. (kamera ponsel saya pun tidak mendukung sepertinya. hehe… )

Kami kembali ke pantai dan bermalam di Saung milik Pak Asep yang berada tepat di pinggir pantai. Harga per saung sangat murah menurut saya, semalamnya kami dikenakan seharga 70.000 rupiah saja. Saung itupun bisa berisi maksimal 3 orang dewasa. Murah kan? =D Oiya, jangan lupa malamnya kamu juga bisa meminta bantuan Pak Asep untuk membuuat api unggun. Wah… Makin seru deh!

Pak Asep sedang membuat Api Unggun.
Pak Asep sedang membuat api unggun
Saung Pak Asep, Pantai Sawarna, Banten.
Saung Pak Asep, Pantai Sawarna, Banten

Kamu juga bisa menghemat biaya dengan membawa tenda dan bisa dipasang di area pinggit pantai yang sangat nyaman.

Makin penasaran kan? Yuk, segera singgahi pantai Sawarna ini. Apabila kamu hobi surfing, pantai ini sangat high recommended, lho. Soalnya banyak bule kece surfing di sana…

Oiya, ini saya share juga beberapa dokumentasi wisata saya di sana. Selamat menikmati.

IMG_20130609_111033
IMG_20130610_011130 IMG_20130610_011211
IMG_20130610_011721
IMG_20130610_011817 IMG_20130610_012544 IMG_20130610_012619 IMG_20130610_125232

15 Juni 2013

Ada Tapi Yang Tak Usai

Senja semakin menguning. Entah mau melanjutkan tugas-tugas ini atau tidak, Shandy tampak ogah-ogahan mengerjakannya. Tugas kantor yang menumpuk beberapa hari ini akibat salah satu rekan editornya mendadak mengundurkan diri dari tempat dimana ia bekerja saat ini. Sebuah perusahaan penerbitan buku yang tidak teramat besar, tapi cukup berpenghasilan untuk menafkahi para karyawannya yang masih setia bertahan.

Tiba-tiba Shandy melirik kearah jendela kaca sebelah kanannya. Ia mengernyitkan dahi, langit sore kali ini cukup tak bersahabat baginya yang ingin melanjutkan perjalanan pulangnya menuju kampus. Sebagai mahasiswa yang juga seorang pegawai adalah hal sulit untuknya membagi fokus dan waktu jika keduanya sama-sama penting. Take it or leave it. Sekali mengambil keputusan, apapun resikonya, ya mesti dijalani dengan penuh tanggung jawab.

Sekeliling ruang kantor pun sudah sepi, hanya saja ada beberapa yang masih tinggal karena memang menunggu jam-jam macet usai. Jakarta kalau tanpa macet ya kurang afdol. Hanya pada saat hari-hari besar saja Jakarta menjadi dirinya sendiri. Menjadi bebas bernapas yang sebelumnya sudah sesak dengan kepulan asap knalpot dari beragam jenis kendaraan.

Hidup sebagai bagian dari para perantau di Ibukota ini, menjadikan Shandy sebagai sosok pribadi yang mandiri. Ia sangat solitaire. Hampir seluruh pelosok Jakarta ia sambangi. Sampai-sampai beberapa teman menyebutnya ‘Peta Hidup’. Bagaimana tidak, ketika kamu berencana pergi ke suatu tempat di Jakarta tapi bingung mau lewat mana, langsung saja hubungi Shandy, dijamin deh kamu akan mendapat berbagai jalur alternatif menuju tempat tujuanmu.

Berkas-berkas diatas meja kerja pun sudah dirapikan, earphone sudah bertengger di telinga Shandy. Ia memutuskan untuk bergegas ke kampus yang hanya beberapa kilometer dari kantornya itu. Kantor, kampus dan kos-kosan Shandy masing-masing berdekatan. Ia sengaja memilih lokasi ketiganya yang saling berdekatan. Biar gak capek, katanya. Pegawai yang juga ‘nyambi’ kuliah di tempat ia bekerja bisa dibilang cukup banyak. Jadi jangan heran kalau sedang musim UTS, UAS dan Skripsi banyak dari pegawai di kantor ini pulang beberapa jam lebih awal sampai-sampai ada yang minta izin cuti kantor lantaran mata kuliah yang diujikan cukup menguras perhatian. “Kuli oh Kuli…” adalah ungkapan yang sering Shandy ucapkan kala ia sedang merasa dibawah tekanan antara tugas kantor yang menumpuk dan jadwal ujian yang menghimpit waktu belajarnya.

“Hai, Shan… Kemane lo? Nguli?”, tegur Alex sambil mengaduk secangkir kopi yang dibawanya dari pantry.

“Yoi, Lex. Maklumlah… Mr. Busy… Hehe…”jawab Shandy sambil berjalan menuju pintu keluar ruangan staff redaksi.

Shandy tiba-tiba berhenti tepat beberapa langkah menuju pintu keluar. Matanya mengitari seluruh pojok ruangan. Ada Mbak Andin sang sekretaris senior sedang asyik telponan di meja kerjanya. Di sudut kiri ada beberapa anak magang sedang asyik cekikikan sambil melihat laptop salah satu dari mereka. Dan Alex. Alex masih menikmati kopi buatannya itu sambil diselingi aktivitasnya di laptop berwarna silver itu. Shandy berbalik menuju meja Alex.

“Lex. Emm… Soal di pestanya Ollie kemarin malam, sorry banget ya. Gw gak tahu kalau anak-anak sudah bikin skenario kayak gitu. Gw juga baru dijelasin tadi pagi sama Sonya dan Andre. Mereka juga minta maaf banget dan gak tahu kalau akhirnya malah bikin lo marah, gw marah.”, ungkap Shandy sambil berusaha duduk di kursi depan meja Alex. Mata Alex belum beranjak dari laptopnya. Seakan-akan berkata, “Yawda lo ngomong aja, gw dengerin kok.”

Shandy kikuk. Ia menunggu beberapa menit sampai Alex benar-benar mau menerima permintaan maafnya. Paling tidak, sekedar melihat kalau benar Shandy sudah meminta maaf dengan sungguh-sungguh. Alex yang saat ini ada didepannya tak berbeda dengan Alex yang ia temui beberapa tahun lalu. Ketika Shandy pertama kali bekerja di penerbitan kecil ini. Alex yang tidak begitu suka memakai pakaian dengan warna mencolok tampak begitu dingin dengan kacamata yang tak selalu dikenakannya itu, tentu telah membuat Shandy yang bisa.dibilang anak junior disana merasa ada hal yang menarik dari diri Alex. Dimana wanita sekarang senang mengikuti tren iklan shampoo dengan model rambut panjang terurai, namun Alex, tampilan rambutnya sangat maskulin. Potongan rambut yang lurus dan pendek sangat menegaskan kalau Alex adalah sosok wanita yang beda.

“Done!”, seru Alex dengan wajah sumringah.

Entah apa yang ia kerjakan. Sepertinya begitu penting dan harus segera diselesaikan saat itu juga. Shandy tetap menatap gerak-gerik Alex yang beralih dari laptop dan mengambil secangkir kopi yang sepertinya sudah mulai dingin.

“Well, Shane. Gw santai aja kok. Lo gak perlu kayak terdakwa korupsi gitu dong. Hahaha… Gw juga udah dijelasin Sonya tadi pagi, tapi si Andre belum ketemu gw seharian ini. Yang pasti gw sih santai aja. Ya namanya juga nge-party gitu. Banyak hal yang bisa terjadi kok, Shane.”,

Alex menjelaskan ketidak keberatannya perihal kejadian memalukan di pesta ulang tahunnya Ollie. Shandy dibuat mabuk oleh teman-temannya dan dibuat satu permainan ‘Dare or Truth’. Kondisi Shandy yang mabuk, membuat ia memutuskan memilih ‘Dare’ dengan tantangan mengungkapkan cinta pada salah satu wanita yang hadir di acara tersebut. Sialnya, Shandy yang mabuk memilih Alex sebagai target tantangannya.

“Tapi, Lex…”, lanjut Shandy namun seperti ada yang ia ingin katakan namun sulit diungkapkan saat ini.

“Kenapa? Tapi kenapa, Shane?”, tanya Alex yang merasa agak aneh dengan perkataan Shandy yang tiba-tiba terhenti.

“Emm, gak jadi. Hehe.. ng… gw duluan ya…”, jawab Shandy dengan kikuknya.

Shandy beranjak dari kursi yang ia duduki di depan meja Alex, Dan ia pun kembali melangkahkan kakinya menuju pintu keluar dengan wajah merah padam. Ia mengelus-elus dadanya. “Sabar Shane, belum saatnya…”, ujarnya pelan.

Alex mengernyitkan dahi dan cemberut. “Woy, ngegantung banget sih lo! Bikin PR aja!”, teriak Alex kearah Shandy yang makin hilang menjauhi ruangan staff redaksi.

Senja pun kembali dipeluk malam.

large

6 Juni 2013, di kamar berukuran 3 x 3m.